Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu kontroversi dengan mendeklasifikasi sejumlah dokumen rahasia pada Kamis (16/7/2026). Trump mengklaim dokumen-dokumen tersebut membuktikan adanya intervensi China dalam pemilu AS. Langkah ini secara langsung bertolak belakang dengan penilaian resmi komunitas intelijen AS sendiri, yang menyatakan tidak ada bukti Beijing memengaruhi hasil Pemilu 2020, pemilu di mana Trump kalah dari Joe Biden.
Pidato 25 Menit di Gedung Putih
Dalam pidato sepanjang 25 menit yang disiarkan dari East Room, Gedung Putih, Trump menegaskan upayanya untuk menjadikan keamanan pemilu sebagai isu politik utama. Dikutip dari Reuters, Jumat, pidato tersebut disampaikan di tengah tekanan politik pemilu sela yang akan datang. Trump menggunakan momentum ini untuk kembali mengangkat tuduhan intervensi asing yang telah lama ia gaungkan sejak kekalahannya pada 2020.
Bertentangan dengan Intelijen AS
Keputusan deklasifikasi ini langsung mendapat sorotan karena bertentangan dengan kesimpulan resmi badan intelijen AS. Sebelumnya, komunitas intelijen AS telah menyatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan China secara sengaja campur tangan dalam Pemilu 2020. Pernyataan ini memperkuat posisi bahwa klaim Trump tidak didukung oleh bukti yang diakui secara resmi oleh pemerintah AS sendiri.
Langkah Trump ini dinilai sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian dari isu-isu domestik dan memperkuat basis dukungannya menjelang pemilu sela. Namun, kritikus menilai tindakan ini dapat merusak hubungan diplomatik dengan China dan memperdalam polarisasi politik di dalam negeri.



