Mantan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi bertemu dengan perwakilan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) pada Senin (3/8). Pertemuan ini menjadi salah satu kontak pertama yang dipublikasikan antara Suu Kyi dan pihak luar sejak militer menggulingkan pemerintahannya pada Februari 2021. Pemerintah Myanmar yang didukung militer mengumumkan pertemuan tersebut dan merilis empat foto yang memperlihatkan Suu Kyi bertemu dengan perwakilan tetap ICRC untuk Myanmar, Arnaud de Baecque, di ibu kota Naypyidaw.
Detail Pertemuan dan Foto yang Dirilis
Dua foto memperlihatkan Suu Kyi berjabat tangan dan berbincang dengan Arnaud de Baecque di sebuah ruangan dengan perabot minim. Pemerintah Myanmar tidak mengungkapkan isi pembicaraan mereka. Dua foto lainnya menunjukkan Suu Kyi memotong kue ulang tahun berwarna merah muda di lokasi yang diduga merupakan tempat tinggalnya. Rak pakaian dan kotak penyimpanan terlihat di latar belakang. Tulisan "Happy Birthday Aunty Suu" pada kue tersebut mengindikasikan foto kemungkinan diambil saat ulang tahunnya yang ke-81 pada Juni lalu.
Waktu dan lokasi pengambilan foto belum dapat diverifikasi secara independen. Namun, menurut AFP, tidak ada indikasi bahwa foto-foto tersebut direkayasa. Pertemuan ini berlangsung beberapa hari sebelum Presiden Myanmar Min Aung Hlaing dijadwalkan berkunjung ke Thailand, yang menjadi lawatan pertamanya ke negara tersebut sejak menjabat sebagai presiden.
Mengapa Pertemuan Ini Menjadi Sorotan?
Suu Kyi tidak pernah terlihat di depan publik setelah kudeta militer pada 2021. Keberadaan dan kondisi kesehatannya selama ini sulit dipastikan. Ia tengah menjalani hukuman penjara 27 tahun atas sejumlah dakwaan yang menurut para pendukungnya bermotif politik. Pada akhir April, setelah Min Aung Hlaing dilantik sebagai presiden secara kontroversial, pemerintah Myanmar menyatakan hukuman Suu Kyi dikurangi seperenam sebagai bagian dari program amnesti tahanan. Ia juga dipindahkan dari penjara ke tahanan rumah.
Meski demikian, pemerintah Myanmar tetap menolak sebagian besar permintaan akses terhadap Suu Kyi. Pada Mei lalu, permintaan Filipina atas nama ASEAN untuk menemuinya ditolak. Putra bungsu Suu Kyi, Kim Aris, yang tinggal di London, juga memimpin kampanye daring bersama aktivis demokrasi Myanmar. Ia menuntut bukti bahwa ibunya masih hidup dan dalam keadaan sehat, karena sudah bertahun-tahun tidak mendengar kabar dari sang ibu. Pada Desember lalu, junta Myanmar menyatakan Suu Kyi "dalam kondisi sehat."
Dikaitkan dengan Upaya Myanmar Mendekati ASEAN
Pertemuan Suu Kyi dengan ICRC terjadi menjelang kunjungan Min Aung Hlaing ke Thailand. Sejak menjadi presiden pada April lalu, ia telah melakukan kunjungan ke India, Cina, dan Laos sebagai bagian dari upaya memperbaiki hubungan diplomatik Myanmar. Analis independen Myanmar David Mathieson mengatakan bahwa Myanmar berupaya untuk kembali diterima ASEAN, namun motifnya adalah untuk meningkatkan status pemerintahan Min Aung Hlaing.
"Ia ingin dipandang sebagai anggota ASEAN yang bertanggung jawab, tetapi pada saat yang sama justru menolak konsensus lima poin ASEAN," kata Mathieson. Ia menyebut sikap itu sebagai contoh "logika zero-sum." Sementara itu, Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow menyambut baik pertemuan Suu Kyi dengan ICRC. Ia berharap pemerintah Myanmar "mengambil langkah-langkah positif berikutnya menuju perdamaian dan stabilitas yang berkelanjutan di Myanmar."
Di sisi lain, kelompok Justice For Myanmar mengkritik sambutan Thailand terhadap Min Aung Hlaing. "Min Aung Hlaing harus dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan yang dilakukannya, bukan diberi legitimasi palsu," kata kelompok tersebut dalam sebuah pernyataan. Menurut Reuters, hingga kini ICRC belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar mengenai pertemuan tersebut.



