Presiden Rusia Vladimir Putin mengakhiri kunjungannya ke Beijing, China, pada Rabu (20/5/2026) dengan membawa deklarasi persahabatan jangka panjang, sejumlah perjanjian bilateral, serta pesan politik tentang kedekatan Moskwa dan Beijing. Namun, kunjungan itu tidak menghasilkan terobosan penting dalam proyek pipa gas Power of Siberia 2, proyek energi yang selama ini menjadi salah satu kepentingan strategis Rusia.
Hubungan Rusia-China Semakin Condong ke Beijing
Kondisi tersebut menunjukkan hubungan Rusia dan China terus bergerak, tetapi dengan posisi tawar yang semakin condong ke Beijing. Hal ini terlihat dari tidak tercapainya kesepakatan signifikan pada proyek pipa gas yang telah lama dinantikan Rusia.
Tiga Poin Penting Kunjungan Putin
Berikut tiga poin penting dari kunjungan Putin ke China, dirangkum dari CNBC pada Kamis (21/5/2026):
- Deklarasi Persahabatan Jangka Panjang: Kedua pemimpin menandatangani deklarasi yang menegaskan komitmen untuk memperkuat hubungan bilateral dalam berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, dan keamanan.
- Perjanjian Bilateral: Sejumlah perjanjian ditandatangani, mencakup kerja sama di bidang perdagangan, investasi, teknologi, dan energi. Namun, perjanjian tersebut tidak mencakup kesepakatan akhir untuk pipa gas Power of Siberia 2.
- Pesan Politik Kedekatan: Putin dan Xi Jinping menyampaikan pesan bahwa hubungan kedua negara tetap solid di tengah tekanan internasional. Meskipun demikian, ketiadaan terobosan energi menunjukkan bahwa China memegang kendali dalam negosiasi.
Proyek Power of Siberia 2 direncanakan untuk mengirimkan gas alam Rusia ke China melalui jalur baru, yang akan meningkatkan ketahanan energi China sekaligus memberikan pendapatan besar bagi Rusia. Namun, China dinilai menggunakan posisinya untuk menunda atau menekan persyaratan yang lebih menguntungkan.
Kunjungan ini menegaskan bahwa meskipun hubungan Rusia-China semakin erat secara politik, kesepakatan energi strategis masih memerlukan negosiasi lebih lanjut. Analis menilai bahwa China semakin percaya diri dalam memanfaatkan ketergantungan Rusia pada pasar energi Asia.



