Serangan drone yang menghantam kapal tanker gas milik Amerika Serikat di Pelabuhan Damietta, Mesir, pada Rabu (29/7/2026) memicu kekhawatiran meluasnya konflik di Timur Tengah. Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi langsung merespons dengan mengadakan percakapan telepon dengan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez. Dalam panggilan telepon tersebut, al-Sisi menekankan perlunya Mesir, Spanyol, Eropa, dan komunitas internasional bekerja sama menghentikan eskalasi, sebagaimana disampaikan juru bicara kepresidenan Mesir kepada media Al Arabiya, Jumat (31/7/2026).
Konflik yang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran, menurut al-Sisi, telah menghadapi tingkat eskalasi yang serius. Oleh karena itu, panggilan telepon dengan Sanchez tidak hanya membahas insiden Damietta, tetapi juga situasi keamanan regional yang kian rapuh. Mesir dan Spanyol dinilai memiliki posisi penting untuk mendorong penghentian kekerasan di Timur Tengah.
Serangan di Pelabuhan Damietta dan Cadangan Energi
Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengamankan sumber alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Langkah ini diambil setelah serangan drone pada hari Rabu menyebabkan kerusakan pada kapal gas yang berlabuh di Damietta. Kepastian pasokan energi menjadi prioritas utama di tengah ketidakstabilan keamanan yang melanda kawasan.
Menteri Perminyakan Karim Badawi menjelaskan, Mesir memiliki empat Unit Penyimpanan dan Regasifikasi Terapung atau FSRU. Selain itu, terdapat kapal kelima yang berlabuh di Pelabuhan Aqaba, Yordania, dan digunakan bersama oleh kedua negara. FSRU berfungsi menerima gas alam cair, menyimpannya, lalu meregasifikasi menjadi gas alam untuk disalurkan ke jaringan distribusi. Dengan kapasitas tersebut, Mesir berusaha menjaga pasokan listrik dan bahan bakar bagi masyarakat.
Sejauh ini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan drone tersebut. Pihak berwenang Mesir masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap asal drone dan motif di balik serangan itu. Insiden ini menambah panjang daftar serangan terhadap infrastruktur di Timur Tengah yang terdampak konflik.
Ketegangan AS-Iran Menyentuh Kawasan
Serangan di Damietta terjadi di tengah kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Pada Selasa (28/7) waktu setempat, militer AS mengaku mencegat beberapa rudal balistik yang diluncurkan Iran ke arah pasukan AS di Yordania. Iran kemudian mengonfirmasi peluncuran rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania. Menanggapi pencegatan itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan pasukannya akan membalas dengan keras. "Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras," kata Trump.
Janji itu diwujudkan keesokan harinya, Rabu (29/7). Militer AS melancarkan gelombang serangan terhadap Iran dengan durasi sekitar dua jam. Puluhan target di Iran dihantam dalam serangan tersebut. Washington menyebut operasi itu sebagai respons yang kuat terhadap rudal-rudal Iran yang diluncurkan ke arah pasukan AS sehari sebelumnya.
Korban Jiwa di Qeshm dan Dampak Kemanusiaan
Menurut kantor berita Iran, Fars, serangan AS menewaskan tiga orang dalam satu keluarga di Pulau Qeshm. Mereka adalah ayah, ibu, dan seorang anak berusia dua tahun. Fars mengutip Universitas Ilmu Kedokteran Hormozgan dalam laporannya. "Serangan AS terhadap sebuah rumah tinggal di kawasan Chah Tangu, Qeshm, menewaskan tiga anggota keluarga: ayah, ibu, dan anak mereka yang berusia 2 tahun," demikian laporan itu. Dua anak lainnya dikabarkan luka-luka.
Peristiwa itu menambah eskalasi kemanusiaan di kawasan. Belum ada tanggapan resmi dari militer AS atas laporan korban sipil tersebut. Namun Washington menegaskan serangan kali ini ditujukan untuk mencegah ancaman dari Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah.
Kesiapan Mesir Menghadapi Krisis Energi
Bagi Mesir, serangan drone di Damietta bukan hanya persoalan keamanan. Pelabuhan Damietta merupakan salah satu titik vital penerimaan gas alam cair untuk kebutuhan domestik. Kehadiran empat FSRU menunjukkan keseriusan Mesir dalam menjaga ketahanan energi. Kapal kelima yang berada di Aqaba juga berfungsi sebagai cadangan bersama dengan Yordania.
Langkah cepat pemerintah Mesir mengamankan pasokan alternatif dinilai penting untuk mencegah terganggunya aktivitas ekonomi dan kebutuhan rumah tangga. Namun insiden ini juga menjadi pengingat bahwa infrastruktur energi bisa menjadi sasaran di tengah meningkatnya konflik regional.
Komunitas internasional, khususnya Eropa, memiliki kepentingan untuk ikut meredakan ketegangan. Al-Sisi, dalam percakapannya dengan Sanchez, menekankan bahwa kerja sama global dibutuhkan untuk menghentikan eskalasi. Pesan tersebut ditujukan tidak hanya untuk keamanan Mesir, tetapi juga stabilitas kawasan secara luas.



