Prabowo Bersedia Kunjungi Korea Utara atas Permintaan Lee Jae Myung
Prabowo Bersedia Kunjungi Korea Utara

Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesediaannya untuk mengunjungi Korea Utara guna membuka dialog antar-Korea. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan dengan Kamar Dagang Indonesia (Kadin) pada Jumat (31/7/2026). Prabowo mengungkapkan bahwa permintaan tersebut berasal dari Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung saat kunjungan terakhirnya ke Seoul pada April 2026.

Latar Belakang Permintaan Lee Jae Myung

Menurut Prabowo, Lee Jae Myung secara langsung memintanya untuk menjadi jembatan dalam membuka dialog dengan Korea Utara. Permintaan itu disampaikan dalam suasana diplomatik saat Prabowo melakukan kunjungan kenegaraan ke Korea Selatan. Langkah ini dinilai sebagai upaya Korea Selatan untuk melibatkan aktor eksternal dalam meredakan ketegangan di Semenanjung Korea.

Indonesia selama ini memiliki hubungan baik dengan kedua negara, baik Korea Selatan maupun Korea Utara. Posisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai kandidat yang relevan untuk memediasi dialog. Lee Jae Myung tampaknya melihat peran aktif Indonesia dalam forum internasional, termasuk dalam isu-isu kawasan, sebagai aset yang dapat dimanfaatkan untuk membuka kanal komunikasi antar-Korea.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Permintaan tersebut tidak lepas dari dinamika politik di Semenanjung Korea yang masih rapuh. Secara teknis, Korea Selatan dan Korea Utara masih dalam status gencatan senjata sejak 1953, yang berarti kedua negara belum menandatangani perjanjian damai. Hubungan kedua negara kerap mengalami pasang surut, dan dialog tingkat tinggi sering kali buntu tanpa keterlibatan pihak ketiga.

Respons Prabowo: Siap Jika Diminta

Prabowo menegaskan bahwa dirinya bersedia memenuhi permintaan Lee Jae Myung jika memang diminta secara resmi. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Indonesia terbuka untuk berkontribusi dalam upaya perdamaian di kawasan. Prabowo tidak merinci mekanisme atau waktu kunjungan, tetapi ia menekankan kesediaannya untuk membantu membuka dialog.

Kesediaan Prabowo ini sejalan dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Sejak dahulu, Indonesia kerap mengambil peran sebagai penengah dalam konflik internasional, termasuk dalam isu-isu di Asia Timur. Langkah ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan pengaruh diplomatik yang signifikan di kawasan.

Pernyataan Prabowo di depan para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang Indonesia mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, isu Korea Utara jarang menjadi sorotan utama dalam forum bisnis. Namun, Prabowo tampak ingin menunjukkan bahwa diplomasi tidak hanya berkutat pada isu ekonomi, tetapi juga mencakup stabilitas politik dan keamanan regional.

Implikasi Diplomatik bagi Indonesia dan Kawasan

Jika kunjungan Prabowo ke Korea Utara benar-benar terwujud, Indonesia akan menjadi salah satu negara yang berperan langsung dalam upaya membuka dialog antar-Korea. Hal ini dapat meningkatkan kredibilitas Indonesia sebagai mediator global sekaligus memperluas ruang diplomasi di Asia Timur. Selain itu, langkah ini dapat membuka peluang kerja sama ekonomi dan sosial-budaya antara Indonesia dan Korea Utara yang selama ini terbatas.

Namun, ada sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan. Korea Utara selama ini dikenal sangat selektif dalam menerima kunjungan pejabat asing. Meski demikian, kedekatan historis antara Indonesia dan Korea Utara, termasuk hubungan diplomatik yang telah terjalin puluhan tahun, bisa menjadi modal penting. Indonesia juga pernah terlibat dalam berbagai inisiatif perdamaian di kawasan, meski tidak secara langsung dalam isu Korea.

Dari sisi Korea Selatan, permintaan Lee Jae Myung kepada Prabowo mencerminkan keinginan untuk mencari jalan alternatif di tengah kebuntuan diplomasi resmi. Lee, yang dikenal sebagai politisi yang relatif moderat terhadap Korea Utara, tampaknya mencoba menggunakan jalur informal melalui pemimpin negara sahabat. Ini juga bisa menjadi sinyal bahwa Korea Selatan ingin memperkuat aliansi dengan Indonesia dalam konteks geopolitik yang lebih luas.

Reaksi dan Harapan Masyarakat

Pernyataan Prabowo ini menuai beragam reaksi dari berbagai kalangan. Sebagian menilai langkah ini positif sebagai upaya Indonesia untuk ikut menjaga perdamaian dunia. Sebagian lain mengingatkan agar Indonesia tetap berhati-hati karena keterlibatan dalam konflik Korea berisiko memengaruhi hubungan dengan negara lain, seperti Amerika Serikat yang memiliki pengaruh besar di Korea Selatan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Namun, Prabowo tampaknya memahami risiko tersebut. Dalam pernyataannya, ia tidak menyebutkan keterlibatan langsung Indonesia dalam proses negosiasi yang lebih luas, melainkan sekadar menjadi fasilitator dialog. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia ingin memainkan peran yang netral tanpa memihak salah satu pihak.

Masyarakat Indonesia sendiri sebagian besar belum banyak yang mengetahui detail isu ini. Namun, jika kunjungan itu terealisasi, ini akan menjadi babak baru dalam hubungan bilateral Indonesia-Korea Utara. Di tengah dinamika politik global yang penuh ketidakpastian, peran Indonesia sebagai penengah dapat menjadi angin segar bagi upaya stabilitas di Semenanjung Korea.

Langkah Selanjutnya

Prabowo belum mengumumkan kapan kunjungan tersebut akan dilakukan. Ia menyebut bahwa kesediaan ini akan diproses lebih lanjut melalui saluran diplomatik. Pemerintah Indonesia akan berkoordinasi dengan pemerintah Korea Selatan dan Korea Utara untuk mematangkan rencana tersebut.

Para pengamat diplomatik menilai bahwa langkah ini perlu didukung oleh konsistensi sikap Indonesia terhadap isu nuklir dan HAM di Korea Utara. Selama ini, Indonesia secara konsisten mendorong dialog dan denuklirisasi di Semenanjung Korea melalui forum internasional, termasuk PBB. Dengan kesediaan Prabowo, Indonesia diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata yang lebih konkret.

Di sisi lain, keberhasilan inisiatif ini sangat bergantung pada respons Pyongyang. Korea Utara belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan tersebut. Namun, jika Korea Utara bersedia menerima kunjungan Prabowo, ini akan menjadi kunjungan tingkat tinggi pertama seorang presiden Indonesia ke Korea Utara dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini tentu akan mencatatkan sejarah baru dalam hubungan kedua negara.

Secara keseluruhan, pernyataan Prabowo ini merupakan langkah berani yang menempatkan Indonesia di panggung diplomasi global. Masyarakat tentu berharap langkah ini tidak hanya menjadi wacana, tetapi diikuti dengan tindakan nyata yang membawa manfaat bagi perdamaian dunia.