Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan ke Iran setelah menerima telepon dari Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman atau MBS. Pembatalan itu diumumkan Trump melalui akun Truth Social pada Minggu (2/8), sehari setelah MBS dilaporkan mendesaknya untuk kembali ke jalur negosiasi.
Keputusan ini menandai perubahan sikap Trump yang sebelumnya menegaskan tekadnya untuk memenangkan perang melawan Iran. Konflik tersebut dimulai oleh serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu, dan telah berlangsung lebih dari lima bulan tanpa tanda-tanda mereda.
Sikap Trump Sebelum Pembatalan
Pada Jumat (31/7) waktu setempat, Trump masih menunjukkan sikap agresif saat memimpin rapat kabinet di Camp David, kompleks peristirahatan kepresidenan di Maryland. Dalam rapat tersebut, ia menegaskan bahwa perang melawan Iran harus dimenangkan dan menyebut Iran sedang dalam posisi terdesak.
"Kita hanya ingin menang. Kita melakukannya dengan sangat baik. Kita berusaha untuk bersikap sebaik mungkin dalam situasi seperti itu. Namun, mereka sedang dihancurkan," kata Trump dalam rapat kabinet itu, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency pada Sabtu (1/8).
Trump juga menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. "Sangat sederhana. Iran tidak akan memiliki senjata nuklir," ucapnya. Ia bahkan mengancam akan menghantam Iran dengan sangat keras hingga Iran menyerah.
"Kita akan menghantam Iran dengan sangat keras dan, Anda tahu, pada titik tertentu mereka akan berkata, 'Kami benar-benar tidak tahan lagi'," tegas Trump.
Rencana Serangan Besar-besaran
Ancaman terbaru Trump itu muncul di tengah laporan media AS yang menyebutkan bahwa ia sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Serangan itu diperkirakan dapat diluncurkan paling cepat akhir pekan tersebut, dengan sasaran utama berupa infrastruktur energi Teheran.
Dalam pernyataannya, Trump juga menepis laporan yang menyebut Iran masih berada dalam posisi kuat. "Kondisi Iran sangat buruk. Mereka sangat tidak jujur. Mereka sangat tidak terhormat dalam urusan ini," sebutnya. Ia yakin tekanan militer dan ekonomi yang dihadapi Iran akan memaksa negara itu mengalah.
Respons Iran dan Ancaman Selat Hormuz
Sikap keras Trump itu langsung direspons oleh Iran. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, mengatakan bahwa Teheran akan memperketat penutupan Selat Hormuz jika AS terus melanjutkan ancaman dan blokade lautnya.
"Kelanjutan blokade maritim dan provokasi perang rezim AS akan semakin memperketat penutupan Selat Hormuz dan juga menutup selat dan titik-titik strategis lainnya," kata Zolghadr, menurut kantor berita IRNA, sebagaimana dilansir Al-Jazeera.
Zolghadr memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz akan berdampak luas. "Ekonomi global, pasar energi, dan pemilih Amerika akan menanggung akibatnya," ujarnya. Peringatan ini menunjukkan bahwa Iran siap menggunakan Selat Hormuz sebagai senjata untuk membalas tekanan Amerika.
Trump Umumkan Pembatalan Serangan
Namun, pada Minggu (2/8), Trump membuat pengumuman mengejutkan. Melalui akun Truth Social miliknya, ia menyatakan bahwa AS batal melancarkan serangan ke Iran. Padahal sebelumnya, ia mengaku siap untuk meluncurkan "Teror, Kekuatan, dan Kekuasaan yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II" terhadap Iran.
Trump mengungkapkan bahwa pembatalan tersebut dilakukan setelah ada permintaan dari Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya. "Kami baru saja diminta oleh Iran dan negara-negara lain untuk menunda serangan apa pun karena batasan kesepakatan telah disetujui," tulisnya.
Kesepakatan yang dimaksud mencakup pembukaan total Selat Hormuz dan pengakhiran program nuklir Iran. "Ini termasuk pembukaan segera, lengkap, dan total Selat Hormuz, dan mengakhiri ancaman nuklir Iran," jelas Trump.
Trump juga menyebut bahwa langkah ini diambil demi masa depan Iran. "Berdasarkan permintaan ini, saya telah setuju, demi kepentingan dunia di masa depan dan juga demi kelangsungan hidup Iran yang sukses dan makmur, untuk membatalkan serangan tersebut, dengan syarat dapat segera mencapai kesepakatan," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa Israel bergabung dalam komitmen tersebut. "Negara Israel bergabung dengan saya dalam komitmen ini. Mari bekerja, semuanya, dan selesaikan ini," lanjut Trump, seraya menutup pernyataannya dengan "Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini! Presiden Donald J. Trump."
Peran Penting MBS
Di balik pembatalan tersebut, ada peran besar dari Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman. Situs berita AS, Axios, melaporkan bahwa berdasarkan sumber internal, MBS menelepon Trump pada Sabtu (1/8). Dalam percakapan itu, MBS disebut mendesak Trump untuk membatalkan serangan dan kembali ke meja negosiasi.
Laporan Axios menegaskan bahwa telepon dari MBS menjadi salah satu faktor kunci yang membuat Trump mengubah sikapnya. Desakan dari Riyadh ini dinilai penting karena Arab Saudi merupakan sekutu utama AS di kawasan Timur Tengah sekaligus memiliki hubungan erat dengan Iran di tengah ketegangan yang melanda kawasan.
Dengan adanya pembatalan serangan ini, konflik antara AS dan Iran yang telah berlangsung lebih dari lima bulan akhirnya menemui babak baru. Meski gencatan senjata belum diumumkan secara resmi, keputusan Trump untuk menunda serangan memberikan harapan bagi upaya diplomasi untuk menyelesaikan krisis ini.
Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran mengenai kesepakatan tersebut. Namun, ancaman Iran untuk memperketat penutupan Selat Hormuz menunjukkan bahwa ketegangan masih bisa meningkat sewaktu-waktu, terutama jika negosiasi yang dijanjikan Trump tidak segera membuahkan hasil.



