Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa dirinya tidak gentar terhadap ancaman Wali Kota New York, Zohran Mamdani, yang berencana menangkapnya. Netanyahu tetap berkomitmen untuk menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada musim gugur tahun ini.
Ancaman Wali Kota New York
Zohran Mamdani, yang menjabat sebagai Wali Kota New York, sebelumnya melontarkan ancaman untuk menangkap Netanyahu jika ia menginjakkan kaki di kota tersebut. Ancaman ini berkaitan dengan kebijakan Israel di Palestina yang menuai kontroversi internasional. Mamdani dikenal sebagai politikus progresif yang vokal mengkritik tindakan militer Israel di Gaza.
Menurut laporan yang dikutip dari BBC pada Senin (27/7/2026), Netanyahu secara terbuka menyatakan bahwa ia tidak khawatir dengan aksi Mamdani. Ia justru menuduh wali kota tersebut sengaja mengobarkan kebencian di antara komunitas di New York.
Tanggapan Netanyahu
Dalam pernyataannya, Netanyahu menyoroti peran seorang wali kota yang seharusnya merangkul seluruh warga tanpa memandang latar belakang agama atau etnis. "Dia seharusnya menjadi wali kota bagi semua warga New York—orang Yahudi, Kristen, Muslim, semuanya. Namun dia justru berusaha mengadu satu kelompok dengan kelompok lainnya," kata Netanyahu seperti dilansir Kompas.com dari BBC.
Netanyahu menegaskan bahwa ancaman penangkapan tidak akan menghalangi niatnya untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB. Acara tahunan tersebut merupakan forum penting bagi para pemimpin dunia untuk membahas isu-isu global, termasuk keamanan dan perdamaian.
Implikasi Diplomatik
Langkah Netanyahu untuk tetap hadir di New York menunjukkan bahwa ia tidak gentar menghadapi tekanan politik domestik maupun internasional. Sidang Majelis Umum PBB dijadwalkan berlangsung pada September 2026, dan kehadiran Netanyahu diprediksi akan memicu protes dari kelompok pro-Palestina di Amerika Serikat.
Sementara itu, Mamdani belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Netanyahu. Namun, beberapa pengamat politik menilai bahwa ancaman tersebut lebih bersifat simbolis dan sulit direalisasikan mengingat status Netanyahu sebagai kepala negara yang memiliki kekebalan diplomatik.
Kekebalan Diplomatik
Sebagai Perdana Menteri petahana, Netanyahu dilindungi oleh kekebalan diplomatik saat menghadiri acara resmi PBB. Hal ini membuat upaya penangkapan oleh otoritas lokal menjadi tidak mungkin tanpa pencabutan kekebalan oleh pemerintah federal AS. Hingga saat ini, Pemerintah Amerika Serikat belum memberikan pernyataan resmi mengenai ancaman tersebut.
Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan antara pemerintah Israel dan otoritas kota-kota besar di AS yang kerap mengkritik kebijakan Israel. New York sendiri memiliki populasi Yahudi yang besar, namun juga menjadi pusat gerakan solidaritas Palestina.
Reaksi Internasional
Pernyataan Netanyahu menuai beragam reaksi di panggung internasional. Beberapa negara mendukung sikap tegas Israel, sementara yang lain mengecam keras kebijakan Netanyahu di wilayah pendudukan. Organisasi Hak Asasi Manusia Internasional (Amnesty International) menyerukan agar Netanyahu tetap diadili atas dugaan kejahatan perang, namun pengadilan tersebut kemungkinan besar tidak akan dilakukan di New York.
Dengan tetap hadir di Sidang Majelis Umum PBB, Netanyahu mengirimkan sinyal bahwa ia tidak akan mundur dari tekanan politik. Sidang tersebut akan menjadi panggung bagi Netanyahu untuk menyampaikan pandangannya mengenai konflik Timur Tengah dan membela kebijakan pemerintahannya.



