Indonesia-China Sepakat Perkuat Kerja Sama Perlindungan Iklim
Indonesia-China Sepakat Perkuat Kerja Sama Iklim

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Mohammad Jumhur Hidayat, menerima kunjungan kehormatan Special Envoy for Climate Change Republik Rakyat Tiongkok, HE Liu Zhenmin, di Kantor KLH, Plaza Kuningan, Jakarta Selatan, pada Kamis, 30 Juni 2026. Pertemuan ini membahas kerja sama bilateral di bidang perubahan iklim dan perlindungan lingkungan hidup.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak sepakat memperkuat kemitraan strategis komprehensif Indonesia-Tiongkok. Ruang lingkup kerja sama mencakup perubahan iklim, perlindungan lingkungan hidup, transisi energi, dan pembangunan hijau. Kesepakatan ini merupakan tindak lanjut dari Joint Statement on Deepening Comprehensive Strategic Cooperation yang telah diteken kedua negara.

Implementasi Persetujuan Paris dan Prinsip CBDR-RC

Indonesia dan Tiongkok menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama dalam implementasi Persetujuan Paris. Kedua negara tetap berpegang pada prinsip Common but Differentiated Responsibilities and Respective Capabilities (CBDR-RC). Prinsip ini menegaskan bahwa semua negara mempunyai tanggung jawab dalam mengatasi perubahan iklim, namun dengan kemampuan dan beban yang berbeda sesuai tingkat pembangunan masing-masing.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kedua pihak juga mendorong negara-negara maju untuk memenuhi komitmen pendanaan iklim, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas bagi negara berkembang. Hal ini dinilai penting untuk memastikan aksi iklim global berjalan adil dan inklusif.

Selain itu, Indonesia dan Tiongkok sepakat mempererat koordinasi menjelang berbagai forum internasional. Langkah ini bertujuan untuk memperjuangkan kepentingan bersama negara-negara berkembang dalam agenda iklim global.

Paradigma Growth through Environmental Protection

Menteri Jumhur menegaskan bahwa Indonesia mengusung paradigma Growth through Environmental Protection. Paradigma ini menjadikan perlindungan lingkungan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Implementasinya dilakukan melalui pengembangan pasar karbon, pemanfaatan keanekaragaman hayati, ekonomi sirkular, dan keadilan iklim.

"Perlindungan lingkungan harus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Indonesia siap memperkuat kerja sama dengan Tiongkok untuk menghadirkan solusi nyata bagi aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan," kata Jumhur dalam keterangan resmi yang diterima detikNews.

Jumhur menambahkan, Indonesia dan Tiongkok memiliki tanggung jawab bersama sebagai dua negara berkembang besar. Keduanya diharapkan mampu menghadirkan solusi terhadap tantangan perubahan iklim global tanpa mengabaikan kebutuhan pembangunan nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Indonesia meyakini perlindungan lingkungan bukan merupakan beban pembangunan, melainkan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Karena itu kami mengusung paradigma Growth through Environmental Protection, yaitu membangun kesejahteraan melalui perlindungan lingkungan hidup, dengan memastikan bahwa manfaat ekonomi hijau dapat dirasakan secara adil oleh masyarakat," jelasnya.

Tak hanya itu, Jumhur menyebut Indonesia tengah mengembangkan pendekatan baru yang mengintegrasikan mitigasi, adaptasi, dan prosperity sebagai tiga pilar aksi iklim nasional. Pendekatan tersebut akan diperkuat melalui pengembangan pasar karbon, kredit keanekaragaman hayati (biodiversity credit), mekanisme pembagian manfaat (benefit sharing), dan penguatan prinsip Climate Justice sebagai dasar pembangunan berkelanjutan Indonesia.

Sambutan Positif Tiongkok

Special Envoy for Climate Change Republik Rakyat Tiongkok, HE Liu Zhenmin, menyampaikan apresiasi atas kepemimpinan Indonesia dalam agenda pembangunan hijau. Ia menegaskan kesiapan Tiongkok untuk memperluas kerja sama praktis di bidang perubahan iklim, energi bersih, teknologi hijau, sistem peringatan dini, ekonomi sirkular, serta perlindungan lingkungan.

Dalam pertemuan itu, kedua pihak juga membahas penguatan kerja sama di sejumlah sektor. Beberapa di antaranya:

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga
  • Pengembangan energi terbarukan;
  • Pasar karbon;
  • Pengelolaan sampah menjadi energi (waste-to-energy);
  • Perlindungan keanekaragaman hayati;
  • Hilirisasi mineral kritis;
  • Riset bersama; dan
  • Peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Langkah Tindak Lanjut dan Komitmen Global

Indonesia dan Tiongkok sepakat menindaklanjuti peluang kerja sama tersebut melalui koordinasi teknis yang lebih intensif. Tujuannya untuk menghasilkan program-program yang memberikan manfaat nyata bagi kedua negara.

Pertemuan ini sekaligus mempertegas komitmen Indonesia dan Tiongkok untuk memperkuat kemitraan strategis dalam mewujudkan pembangunan rendah karbon, ketahanan iklim, serta perlindungan lingkungan hidup. Semua itu diharapkan mendukung kesejahteraan masyarakat dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).