Sekolah Negeri Sepi Peminat, Ratusan Murid Baru Hilang
Sekolah Negeri Sepi Peminat, Ratusan Murid Baru Hilang

Memasuki tahun ajaran baru 2026, sejumlah sekolah negeri di berbagai daerah justru menghadapi fenomena sepi peminat. Di Kota Yogyakarta, diperkirakan sekolah negeri kekurangan hampir 1.000 murid baru. Kondisi serupa terjadi di Kota Semarang, di mana SD Negeri Wonodri dan SD Negeri Purwoyoso 1 hanya menerima kurang dari 10 murid baru. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Jawa Tengah, tetapi juga melanda Bali dan Jawa Timur, dengan beberapa SD hanya mendapatkan satu hingga dua murid baru.

Kekurangan Murid di Yogyakarta dan Semarang

Menurut data Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, jumlah murid baru yang mendaftar di sekolah negeri pada tahun ajaran 2026 turun drastis. Hingga saat ini, tercatat kekurangan hampir 1.000 murid baru dibandingkan tahun sebelumnya. Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Budi Santoso, mengatakan, "Kami masih melakukan pendataan lebih lanjut, tetapi angka ini cukup mengkhawatirkan. Banyak orang tua lebih memilih sekolah swasta atau homeschooling."

Di Semarang, fenomena serupa terjadi. SDN Wonodri dan SDN Purwoyoso 1 hanya menerima masing-masing 8 dan 9 murid baru. Padahal, kapasitas kedua sekolah tersebut mencapai 100 siswa per angkatan. "Ini pertama kalinya dalam sejarah sekolah kami jumlah murid baru di bawah 10 orang," ujar Kepala SDN Wonodri, Siti Rahmawati.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Fenomena Meluas ke Jawa Tengah, Bali, dan Jawa Timur

Tidak hanya di Yogyakarta dan Semarang, sekolah negeri di daerah lain juga mengalami penurunan drastis. Di Jawa Tengah, beberapa SD negeri di Kabupaten Banyumas dan Cilacap hanya menerima satu hingga dua murid baru. Di Bali, khususnya di Kabupaten Gianyar, terdapat SD negeri yang hanya mendapatkan tiga murid baru. Sementara di Jawa Timur, fenomena serupa dilaporkan terjadi di Kota Surabaya dan Kabupaten Malang.

Menurut pengamat pendidikan, Dr. Ani Wijayanti, tren ini disebabkan oleh beberapa faktor. "Pertama, menurunnya angka kelahiran di Indonesia. Kedua, meningkatnya preferensi orang tua terhadap sekolah swasta atau pendidikan alternatif seperti homeschooling. Ketiga, persepsi bahwa kualitas sekolah negeri menurun," jelasnya.

Dampak dan Upaya Pemerintah

Kekurangan murid baru berdampak pada efisiensi operasional sekolah dan alokasi anggaran. Beberapa sekolah terpaksa menggabungkan kelas atau mengurangi jumlah guru. Pemerintah daerah setempat berupaya mengatasi masalah ini dengan melakukan sosialisasi keunggulan sekolah negeri, termasuk biaya yang lebih terjangkau dan program unggulan.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Supriyono, menyatakan, "Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh dan memperbaiki kualitas layanan di sekolah negeri agar lebih diminati." Sementara itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tengah mengkaji kebijakan zonasi yang dinilai menjadi salah satu penyebab menurunnya minat terhadap sekolah negeri.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga