Komisi X DPR Minta Pemerintah Tata Ulang Distribusi Sekolah Negeri Sepi Murid
Komisi X DPR Minta Pemerintah Tata Ulang Distribusi Sekolah

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani meminta pemerintah menata ulang distribusi satuan pendidikan secara hati-hati. Hal ini disampaikan untuk merespons fenomena banyaknya sekolah negeri yang sepi peminat di berbagai daerah Indonesia.

Faktor Penyebab Sepi Peminat

Menurut Lalu, fenomena sekolah negeri dengan jumlah siswa sangat sedikit bukan semata-mata karena minat masyarakat menurun. "Faktor seperti penurunan angka kelahiran, perpindahan penduduk, persebaran sekolah yang tidak proporsional, hingga kualitas dan daya saing satuan pendidikan turut memengaruhi kondisi ini," kata Lalu saat dihubungi, Kamis (16/7).

Ia menilai pemerintah perlu melakukan pemetaan akurat di setiap daerah agar kebijakan yang diambil sesuai kebutuhan masyarakat. "Dari perspektif kami, pemerintah perlu menata kembali distribusi satuan pendidikan secara hati-hati dengan tetap mengutamakan hak anak untuk memperoleh akses pendidikan," ujarnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Evaluasi Penggabungan Sekolah dan Peningkatan Mutu

Lalu mengatakan evaluasi terhadap kemungkinan penggabungan sekolah, peningkatan mutu pembelajaran, pemerataan guru, serta penguatan sarana dan prasarana harus dilakukan secara terukur. "Melibatkan pemerintah daerah serta masyarakat, sehingga solusi yang diambil tidak hanya efisien dari sisi anggaran, tetapi juga menjamin layanan pendidikan tetap optimal," katanya.

Contoh Sekolah Minim Murid Baru

Memasuki awal tahun ajaran 2026/2027, sejumlah sekolah negeri di Indonesia minim mendapatkan murid baru. Di SD Negeri 1 Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung, hanya menerima dua siswa baru. Meski hanya dua murid baru di kelas 1, guru tetap semangat menyambut mereka saat MPLS pada hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7).

Di daerah lain, hanya tiga murid yang masuk ke SDN Purwoyoso 01, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Fenomena serupa juga terjadi di Magelang, Jawa Tengah. Kabid Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Magelang, Sugiyarti, mengatakan setidaknya ada 24 SD di wilayah itu yang jumlah rombongan belajarnya kurang dari 50 persen kuota tersedia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga