Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas) Polda Riau, Kombes Pol Eko Budhi Purwono, terus berupaya mengubah pola pikir masyarakat agar lebih peduli terhadap kelestarian hutan. Melalui berbagai program edukasi dan pelatihan, ia berusaha mengurangi ketergantungan warga terhadap hutan sebagai sumber penghidupan utama.
Berkat dedikasinya dalam bidang lingkungan, Kombes Eko diusulkan oleh masyarakat Riau untuk menerima Hoegeng Awards 2026. Salah satu pengusulnya adalah Dody Rasyid Amin, seorang penggerak lingkungan sekaligus Founder Subayang Festival Riau. Dody mengungkapkan bahwa Kombes Eko berhasil mengubah paradigma masyarakat setempat, terutama para pemuda, agar tidak lagi menjadikan hutan sebagai mata pencarian utama.
Dody menjelaskan bahwa di kawasan suaka margasatwa tempatnya tinggal, terdapat sepuluh desa yang berada di tengah hutan. Wilayah tersebut minim akses listrik, jalan, dan internet, sehingga kesempatan pendidikan dan pekerjaan yang layak sangat terbatas. Akibatnya, banyak warga yang terpaksa melakukan ilegal logging atau mengambil hasil hutan secara ilegal.
Pertemuan Dody dengan Kombes Eko terjadi saat Jambore Karhutla tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Polda Riau. Dalam acara tersebut, Dody yang bertindak sebagai penata acara menyampaikan kondisi memprihatinkan di daerahnya. Kombes Eko kemudian merespons dengan memberikan pelatihan kepada pemuda setempat agar memiliki keterampilan alternatif.
Dody juga menyoroti tradisi setiap pasangan baru menikah yang membuka lahan hutan seluas dua hektare. Jika dalam satu desa terdapat empat pernikahan, maka sepuluh desa akan membuka 80 hektare hutan per tahun. Tanpa adanya alih profesi, suaka margasatwa seluas 140 ribu hektare terancam rusak.
Kombes Eko mengaku bahwa pendekatan yang dilakukan tidaklah mudah. Ia harus membangun kepercayaan masyarakat dengan cara mendatangi mereka, memberikan bantuan sembako, dan menyampaikan ide-ide baru secara bertahap. Hasilnya, sebanyak 60 pemuda setempat mengikuti pelatihan satpam, dan sebagian di antaranya sudah bekerja.
Para pemuda yang telah mengikuti pelatihan kemudian diangkat sebagai Duta Green Policing. Mereka diharapkan tidak hanya mendapatkan pekerjaan, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mengajak masyarakat lain untuk peduli lingkungan dan menjaga hutan.
Selain melalui pelatihan, Kombes Eko juga melibatkan siswa sekolah dalam program peduli lingkungan. Ketua Persatuan Hijau Riau, Hengky Primana, mengapresiasi pendekatan Kombes Eko yang kreatif, seperti membentuk Duta Green Policing dan menghidupkan program siskamling dengan kearifan lokal. Salah satu program unggulan adalah Dubalang Batang Kuantan yang melibatkan masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban, serta menindak tambang emas ilegal.
Kombes Eko menjelaskan bahwa program Green Policing merupakan inisiatif Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan yang mengintegrasikan penegakan hukum dengan perlindungan lingkungan. Ia bertugas mengeksekusi program tersebut di lapangan dengan menggandeng pemerintah daerah, swasta, tokoh agama seperti Ustad Abdul Somad, dan generasi muda.
Eko menyadari bahwa mengubah pola pikir masyarakat tidak bisa instan. Namun, ia optimis bahwa melalui pendekatan yang humanis dan kolaborasi berbagai pihak, kesadaran ekologis masyarakat akan meningkat. Ia mencontohkan bahwa pada tahun 2025, udara di Pekanbaru tidak lagi tercemar asap kebakaran hutan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Kombes Eko berharap program Green Policing dapat terus berjalan dan memberikan dampak positif bagi lingkungan Riau. Ia mengajak semua elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga hutan dan alam demi masa depan yang lebih baik.



