Gereja Misi Sejahtera Bantul Sesalkan Pembubaran Ibadah, Anak-anak Trauma
GMS Bantul Sesalkan Pembubaran Ibadah, Anak Trauma

Bantul – Pengurus Gereja Misi Sejahtera (GMS) Bantul menyatakan penyesalan mendalam atas pembubaran ibadah yang viral di media sosial. Insiden tersebut tidak hanya menghentikan kegiatan peribadatan, tetapi juga meninggalkan trauma bagi para jemaat, terutama anak-anak. Pihak GMS mengungkapkan adanya intimidasi serta ancaman fisik dan verbal yang dialami saat pembubaran berlangsung.

Kronologi Pembubaran Ibadah

Humas GMS Pusat, Josiah Michael, menjelaskan bahwa pada Minggu (24/5) pukul 07.59 WIB, sekelompok massa dari laskar FJI berjumlah puluhan orang mendatangi lokasi ibadah GMS Bantul. Mereka meminta agar kegiatan ibadah segera dibubarkan dengan alasan kegiatan tersebut berpotensi mengganggu kerukunan umat beragama dan harmoni masyarakat.

“Kami sangat menyesalkan terjadinya insiden pembubaran ibadah yang diikuti dugaan tindakan intimidasi dan ancaman baik secara fisik maupun verbal dari sekelompok oknum yang tidak bertanggung jawab terhadap saudara-saudara GMS Bantul,” ujar Josiah dalam keterangan resminya, Selasa (26/5/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ibadah Terpaksa Bubar

Josiah melanjutkan bahwa kegiatan ibadah akhirnya terpaksa dihentikan setelah terjadi keributan. Kejadian ini menyisakan luka dan trauma mendalam bagi jemaat, terutama anak-anak yang hadir. “Anak-anak menjadi sangat ketakutan dan trauma menyaksikan peristiwa tersebut,” tambahnya.

Hak Beragama Dilindungi Konstitusi

Menurut Josiah, kebebasan beragama dan menjalankan ibadah secara damai merupakan hak asasi fundamental yang dijamin dan dilindungi oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Ia menegaskan bahwa pembatasan ibadah dengan intimidasi yang berujung pada kekerasan adalah tindakan yang mencederai nilai-nilai toleransi dan keharmonisan bangsa.

Tanggapan Kesbangpol Bantul

Plt Kepala Kesbangpol Bantul, Yulius Suharta, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menyebut bahwa pihaknya sudah berupaya melakukan antisipasi sejak informasi tentang potensi penolakan terhadap kegiatan GMS mulai berkembang. “Kesbangpol tidak hanya menunggu laporan, tetapi kami sudah mengkoordinasikan langkah-langkah pencegahan. Namun, sayangnya kejadian ini tetap terjadi,” ujarnya saat dihubungi pada Senin (25/5).

Yulius menambahkan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan aparat keamanan dan tokoh masyarakat untuk memastikan situasi tetap kondusif serta mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga