Kesepakatan strategis antara Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) dengan perusahaan pertambangan Australia, Lynas, untuk menggali 17 logam unsur tanah jarang senilai USD 96 juta (Rp1,7 triliun) menghadapi hambatan serius di Malaysia. Dukungan Washington terhadap Israel justru memicu penolakan publik dan tekanan politik yang dapat menggagalkan proyek tersebut.
Penolakan Publik Terkait Isu Palestina
Berita mengenai perjanjian ini memicu reaksi keras di Malaysia, yang memiliki rekam jejak panjang dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan lantang mengecam Israel atas operasi militer di Gaza dan Tepi Barat. Masyarakat mendesak pemerintah di Kuala Lumpur untuk memblokir perjanjian Lynas atau memberikan jaminan bahwa logam tanah jarang yang diproses di pabrik Gebeng tidak akan digunakan dalam persenjataan apa pun.
Dalam surat terbuka kepada Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, lebih dari 50 kelompok non-pemerintah menyatakan bahwa kesepakatan tersebut berisiko melibatkan Malaysia dalam "tuduhan serius atas pelanggaran hukum internasional di berbagai wilayah" termasuk di antaranya Gaza, dengan turut menyoroti AS sebagai salah satu pemasok utama persenjataan Israel.
Hubungan Logam Tanah Jarang dan Persenjataan
Namun, hubungan antara logam tanah jarang Malaysia dan persenjataan Israel tidaklah sederhana. Meskipun bahan baku tersebut dapat digunakan untuk membuat pesawat tempur dan rudal, bahan-bahan tersebut juga bisa berakhir di mesin cuci atau turbin angin. "Apa yang dituntut oleh para pengunjuk rasa Malaysia setara dengan melarang ekspor karet alam ke AS karena ban-ban tersebut mungkin akan digunakan pada kendaraan Israel di Gaza," kata Thomas Kruemmer, direktur Ginger International Trade and Investment, sebuah perusahaan yang berbasis di Singapura yang berfokus pada pasar logam tanah jarang, kepada DW.
Sebuah komite parlemen menggelar sidang dengar pendapat pekan lalu untuk menentukan apakah proyek Lynas akan membahayakan "reputasi Malaysia sebagai pendukung setia Palestina." Pemerintahan Anwar kini memiliki waktu hingga akhir bulan ini untuk menyatakan posisi resminya terkait kesepakatan tersebut.
Pentingnya Lynas bagi Rantai Pasokan AS
Menurut Kruemmer, Lynas dari Australia merupakan salah satu dari sedikit perusahaan yang mampu menyediakan dua jenis logam tanah jarang tertentu dalam jumlah komersial: disprosium dan terbium. Ia mencatat bahwa proyek investasi logam tanah jarang andalan Amerika Serikat, tambang Mountain Pass milik MP Materials di California, hanya memiliki sedikit dari kedua logam tersebut. "Dan karena Cina menghentikan ekspor logam tanah jarang yang ditujukan untuk aplikasi militer, Lynas akan menjadi satu-satunya sumber yang tersedia bagi Pentagon untuk saat ini," kata Kruemmer.
Meredith Schwartz, peneliti di Center for Strategic and International Studies, menambahkan, "Pentagon membutuhkan pasokan yang terjamin jika Cina terus menolak akses, ini merupakan keharusan keamanan nasional. Hal ini menjadikan proyek-proyek yang sedang beroperasi aktif, seperti pabrik pemurnian logam tanah jarang Lynas di Malaysia, sangat strategis bagi Amerika Serikat." Schwartz juga menyebut pabrik pengolahan Lynas di Malaysia, yang memperoleh bahan baku dari Australia, sebagai "titik kunci" dalam "rantai pasokan dari tambang hingga magnet."
Keterlibatan Pentagon dan Penggunaan untuk Senjata
Pengumuman kesepakatan yang diterbitkan oleh Lynas pada bulan Maret tidak menyebutkan apakah bahan yang dijualnya kepada Departemen Pertahanan AS akan digunakan untuk senjata. Namun, mengingat kesepakatan tersebut secara khusus dilakukan dengan Departemen Pertahanan, kata Kruemmer, kemungkinan besar akan demikian. "Jika bahan tersebut tidak ditujukan untuk keperluan pertahanan, Pentagon tidak akan menandatangani kontrak, mereka tidak peduli dengan mobil listrik Ford Motor atau peralatan dapur Whirlpool," katanya. Baik Lynas maupun Departemen Pertahanan AS tidak menanggapi permintaan komentar dari DW.
Trauma Polusi dan Isu Lingkungan
Perusahaan pertambangan asing memiliki kebutuhan praktis untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat setempat terkait operasinya, kata Schwartz. Hal itu merupakan tantangan besar bagi proyek-proyek logam tanah jarang di Malaysia, di mana sebuah usaha yang didukung Jepang pada tahun 1980-an meninggalkan genangan limbah radioaktif, produk sampingan yang tak terhindarkan dari penambangan dan pemurnian logam tersebut. Limbah ini telah dituding menjadi penyebab serangkaian kelainan genetik, kasus kanker, dan kematian di wilayah tersebut. Lynas juga terus-menerus dibanjiri pertanyaan mengenai penanganan limbah radioaktifnya.
Jika pemerintah Malaysia mencoba menghalangi atau setidaknya mempersulit kesepakatan AS-Lynas, ini mungkin akan memunculkan kembali kekhawatiran akan isu lingkungan yang kontroversial dan mengaitkannya dengan perpanjangan izin pabrik Gebeng, kata Oh Ei Sun, peneliti senior di Singapore Institute of International Affairs. Hukum internasional juga dapat digunakan sebagai alat tekanan. Dalam surat mereka kepada Perdana Menteri Anwar, kelompok-kelompok aktivis mengutip kewajiban Malaysia untuk memastikan bahwa siapa pun di wilayah yurisdiksinya juga menghormati kerangka hukum yang lebih luas ini, tambahnya. "Pada dasarnya ini soal kemauan politik. Jika Anda ingin melakukan sesuatu, Anda selalu bisa menemukan alasan untuk melakukannya," kata Oh.
Risiko Isolasi bagi Malaysia
Apakah pemerintah benar-benar ingin menggagalkan proyek tersebut adalah pertanyaan lain. "Sampai saat ini, [Malaysia] masih merupakan kekuatan perdagangan utama, tujuan investasi utama di dunia," kata Oh sembari melanjutkan, "begitu Anda melakukan hal-hal seperti itu, Anda akan mengisolasi diri sendiri, dan itu adalah pilihan yang harus diambil oleh pemerintah Malaysia." Di saat yang sama, Malaysia kian konservatif. Partai-partai Islamis sedang naik daun dan pemerintah menghadapi tekanan untuk menenangkan mayoritas penduduk Muslim. Pemerintahan Anwar bisa meraih keuntungan politik dengan menentang kesepakatan AS-Lynas, kata Oh. "Jadi, jika saya seorang politisi dan kelangsungan politik adalah tujuan utama saya, saya bisa melakukan sesuatu untuk memperkuat kredibilitas keagamaan saya dan perjuangan untuk Palestina adalah cara yang sangat tepat dan mudah dilakukan."



