Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang mengumumkan bahwa 20 kecamatan di wilayahnya berpotensi tinggi mengalami kekeringan akibat musim kemarau yang melanda. Kepala BPBD Pandeglang, Riza Ahmad Kurniawan, menyatakan bahwa potensi ini didasarkan pada data kajian risiko bencana (KRB) kekeringan.
Potensi Kekeringan Meluas di 150 Desa
Riza menjelaskan bahwa berdasarkan KRB, kekeringan berpotensi tinggi terjadi di 20 kecamatan yang mencakup 150 desa. Kecamatan-kecamatan tersebut meliputi Sumur, Sukaresmi, Saketi, Pulosari, Patia, Pagelaran, Menes, Mandalawangi, Labuan, Jiput, Cisata, Cimanggu, Cikeusik, Cikeudal, Cibitung, Carita, Angsana, Sindangresmi, Cadasari, dan Karangtanjung. Sementara itu, kecamatan lainnya berada dalam kategori potensi kekeringan sedang.
Tiga Kecamatan Sudah Terdampak, Distribusi Air Bersih Dilakukan
Riza menambahkan bahwa tiga kecamatan, yaitu Karangtanjung, Angsana, dan Sindangresmi, saat ini sudah mengalami kekeringan. Tim BPBD telah mengirimkan bantuan air bersih ke wilayah-wilayah tersebut. "Sementara sudah mendistribusikan air bersih ke tiga kecamatan," ujarnya pada Selasa (14/7/2026).
Pendataan Dampak Masih Berlangsung
Meskipun demikian, BPBD belum dapat memastikan jumlah jiwa atau kepala keluarga (KK) yang berpotensi terdampak. "Untuk jiwa atau KK potensi terdampak, masih pendataan," pungkas Riza. Pihaknya terus melakukan upaya mitigasi dan pendataan lebih lanjut.
Potensi Kebakaran Lahan dan Pemukiman
Selain kekeringan, BPBD juga mengingatkan potensi kebakaran di area pemukiman, lahan, dan hutan selama musim kemarau. Kasi Pemadam Kebakaran pada BPBD, Yosep Mardini, mengimbau warga untuk memeriksa instalasi listrik rumah secara berkala guna mencegah kebakaran. "Senantiasa penggunaan listrik kabelnya dicek secara berkala, karena memang seperti banyak kabel yang belum standar atau mungkin sudah termakan usia yang tidak dicek. Penggunaan charger untuk tidak selalu menempel, kabel selang tabung gas dan regulator juga perlu diperiksa," katanya.
Imbauan Tidak Membakar Lahan Sembarangan
Yosep juga mengimbau warga untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan dan tidak membakar lahan, karena dapat memicu kebakaran hutan dan lahan yang berdampak pada kerusakan ekosistem. "Tidak membuang puntung rokok, membakar lahan, ketika ditinggal memicu terjadinya kebakaran. Karena memang terjadi kebakaran akan sangat merugikan, kalau lahan merugikan ekologi dan ekosistem, hutan gundul tidak bisa menyerap air, dan juga cepat terjadinya longsor," ucapnya.



