Sebuah artikel berjudul "As history shows, universities must adapt to a changing world – or die" atau "Sejarah telah membuktikan, universitas harus beradaptasi terhadap dunia yang berubah, atau punah" karya Geoff Mulgan di Times Higher Education edisi 7 Juli 2026 menjadi inspirasi tulisan ini. Artikel tersebut mengupas hukum besi sejarah universitas dunia selama seribu tahun: yang bertahan bukan yang paling tua atau paling mentereng, melainkan yang paling berani membongkar dirinya sendiri saat dunia berubah.
Hukum Besi Sejarah Universitas
Menurut Mulgan, kampus yang kaku akan digilas zaman, sedangkan kampus yang lentur mampu menemukan bentuk baru dan hidup kembali. Prinsip ini berlaku sepanjang sejarah, dari universitas pertama di Bologna hingga institusi modern di era digital. Adaptasi bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan.
Pelajaran dari Masa Lalu
Banyak universitas tertua di dunia yang masih eksis karena terus berinovasi. Sebaliknya, institusi yang menolak perubahan perlahan kehilangan relevansi. Mulgan menekankan bahwa perubahan kurikulum, metode pengajaran, dan struktur organisasi adalah kunci. Universitas harus responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi.
Dampak bagi Pendidikan Tinggi
Artikel ini menjadi peringatan bagi perguruan tinggi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tanpa adaptasi, universitas berisiko punah. Sebaliknya, dengan keberanian untuk bertransformasi, mereka dapat terus menjadi pusat pengetahuan dan inovasi. Tantangan seperti digitalisasi, globalisasi, dan perubahan demografi menuntut respons cepat dari para pemimpin kampus.



