Kompas.com – Ada tipe orang yang langsung menghafal jalan dan rute saat pertama kali berkunjung ke suatu tempat. Namun, ada pula tipe satunya, yang sudah berkali-kali berkunjung namun tak pernah menghafal jalan sama sekali sehingga sering tersesat. Perbedaan kemampuan navigasi ini ternyata sangat lumrah terjadi. Menariknya, pandangan psikologi mutakhir menunjukkan bahwa ketidakmampuan seseorang dalam mengingat rute jalan sama sekali tidak berkaitan dengan tingkat kecerdasan yang rendah atau sifat linglung (absen-pikiran) alias pikun.
Penjelasan Psikologi tentang Kemampuan Navigasi
Menurut psikolog kognitif, kemampuan navigasi adalah keterampilan yang kompleks dan sangat bervariasi antar individu. Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan orientasi spasial buruk seringkali memiliki kecerdasan normal atau bahkan di atas rata-rata. Faktor utama yang memengaruhi adalah preferensi gaya belajar dan pengalaman. Misalnya, seseorang yang terbiasa menggunakan GPS cenderung kurang mengembangkan memori spasial dibandingkan mereka yang sering bernavigasi secara manual.
Faktor yang Memengaruhi Daya Ingat Rute
Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kesulitan mengingat rute meliputi: (1) kurangnya perhatian terhadap detail lingkungan, (2) kecemasan saat bepergian, dan (3) perbedaan neurologis dalam pemrosesan informasi spasial. Psikolog juga menekankan bahwa kondisi seperti disorientasi topografis (ketidakmampuan mengenali tempat yang familiar) bukanlah tanda demensia atau penurunan kognitif, melainkan variasi normal dalam fungsi otak.
Tips Meningkatkan Kemampuan Navigasi
Bagi yang sering tersesat, ada beberapa strategi yang bisa dicoba: gunakan landmark sebagai patokan, buat peta mental dengan rute alternatif, dan latih orientasi dengan berjalan kaki tanpa GPS. Psikolog menyarankan untuk tidak menyalahkan diri sendiri karena kemampuan navigasi dapat ditingkatkan dengan latihan. Yang terpenting, kesulitan mengingat jalan bukanlah cerminan kecerdasan, melainkan hanya salah satu aspek dari keragaman kognitif manusia.



