Jakarta - Perubahan nomenklatur fakultas 'Teknik' menjadi 'Rekayasa' memicu beragam reaksi dari kalangan akademisi hingga mahasiswa. Bagi sebagian pihak, perubahan ini dianggap sebagai penyesuaian istilah agar sejalan dengan standar internasional. Namun, bagi mereka yang tumbuh dalam kultur pendidikan teknik di Indonesia, istilah 'Teknik' dianggap memiliki makna emosional dan historis yang mendalam.
Pandangan Founder Anak Teknik Indonesia
Founder Anak Teknik Indonesia, Arkastra Bhrevijana, menilai bahwa perubahan nomenklatur tersebut bukan sekadar pergantian istilah administratif. Menurutnya, kata 'Teknik' telah melekat sebagai identitas dan budaya yang membentuk karakter para mahasiswa teknik di Indonesia.
"Dunia pendidikan tinggi kita memang sedang membuka lembaran baru. Secara akademis kita paham, engineering diterjemahkan menjadi rekayasa," ungkap Arkastra dalam keterangan tertulis, Kamis (14/5/2026). "Tapi bagi kami yang pernah begadang di laboratorium, berkutat di bengkel, atau mengejar deadline tugas teknik, kata 'Teknik' punya makna yang lebih dalam," sambungnya.
Arkastra menambahkan, sejarah pendidikan teknik di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari semangat perjuangan dan pembangunan bangsa sejak awal kemerdekaan.
Kebanggaan Menjadi Anak Teknik
Menurut Arkastra, istilah 'Teknik' selama puluhan tahun telah melahirkan mentalitas tangguh dan cara berpikir solutif bagi para mahasiswa dan lulusan di bidang tersebut. "Kalau 'Rekayasa' terdengar lebih akademis, maka 'Teknik' terdengar seperti bunyi mesin di pembangkit listrik atau suasana solidaritas di koridor kampus," ujarnya.
Arkastra menilai, kebanggaan menjadi 'Anak Teknik' bukan semata soal nilai akademik, melainkan solidaritas yang terbentuk selama proses pendidikan. Ia menyebut, dunia teknik mengajarkan pentingnya kerja tim, loyalitas, dan kebersamaan dalam menyelesaikan persoalan.
"Di Teknik, kita belajar 'tidak ada pahlawan kesiangan'. Sebuah proyek besar tidak akan selesai hanya karena satu orang pintar. Semua membutuhkan kerja sama dan rasa percaya antar rekan," tutur Arkastra.
Tantangan dan Peluang
Meski demikian, Arkastra menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak perubahan atau perkembangan zaman. Ia justru mendorong generasi muda teknik untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), energi terbarukan, hingga sistem otomasi modern.
Sebagai Founder Anak Teknik Indonesia, Arkastra melihat perubahan nomenklatur ini sebagai tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di bidang engineering. "Kita tetap akan mengikuti aturan formal negara dan menguasai ilmu rekayasa sebaik-baiknya. Tapi di dalam dada, semangat Anak Teknik tidak akan pernah hilang," jelasnya.
Menurut Arkastra, identitas seorang 'Anak Teknik' tidak ditentukan oleh perubahan istilah di atas kertas, melainkan dari kualitas solusi yang mampu diberikan kepada masyarakat dan bangsa. "Apapun namanya, jiwanya tetap Teknik," tegas Arkastra.



