Faris Budiman Annas: Perangi Stunting dengan Animasi dan Prinsip Satu Persen Kebaikan
Dari tubuh kurus kering, pelaut itu tiba-tiba berubah menjadi besar dan berotot setelah melahap sekaleng bayam. Cerita Popeye Si Pelaut, yang populer di Indonesia pada era 1970-1990-an melalui tayangan animasi televisi, ternyata memiliki dampak nyata. Di Amerika Serikat, konsumsi bayam melonjak 33 persen pada 1930-an, menunjukkan kekuatan media populer dalam membentuk norma kesehatan, sebuah fenomena yang dikenal sebagai "The Popeye Principle".
Efektivitas Animasi dalam Kampanye Kesehatan Anak
Faris Budiman Annas, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, menjelaskan bahwa karya visual dan animasi sangat efektif untuk menyampaikan kampanye kesehatan kepada anak-anak. "Kita berikan literasi kesehatan dan gizi dalam format-format menarik seperti video animasi. Anak-anak tidak merasa bosan karena program didesain sesuai usia mereka," ujarnya. Strategi ini kini makin lazim, seperti dalam serial "Upin dan Ipin" untuk pencegahan Covid-19 atau film "Inside Out 2" yang mengenalkan kesehatan mental.
Dengan perkembangan teknologi, animasi disebarkan melalui media digital dan dikombinasikan sebagai permainan interaktif. "Kita implementasikan teknologi dalam literasi gizi dan kesehatan, tidak pakai cara konvensional," imbuh Faris. Metode ini tidak hanya menarik minat anak, tetapi juga membantu orang tua memahami isu kesehatan dengan lebih baik, sehingga diharapkan dapat meningkatkan literasi gizi dan mencegah stunting.
Kiprah di Lapangan: Dari NTT hingga Jakarta
Sebagai pengajar, Faris tidak hanya berteori. Ia terlibat aktif sebagai relawan di Foundation for Mother and Child Health (FMCH) Indonesia atau Yayasan Balita Sehat, sebuah lembaga nirlaba yang fokus pada kesehatan ibu dan anak. "Kita punya beberapa proyek di daerah tertinggal seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana angka stunting mencapai 37 persen pada 2023-2025," paparnya. Kondisi ini dipengaruhi gizi buruk, kemiskinan, dan akses air bersih yang sulit.
Sejak 2019, Faris terjun ke NTT, menggunakan keahlian komunikasinya sebagai fotografer dan videografer untuk mendokumentasikan dan menyiapkan materi kampanye. Kini, sebagai Sekretaris FMCH Indonesia, ia memberikan arahan, brainstorming, dan monitoring kampanye kesehatan. Dukungan juga mencakup wilayah Jakarta dan Bogor, dengan pengembangan perpustakaan keliling, pertunjukan boneka, permainan interaktif, dan seri animasi ‘Aku Bisa Hadapi Ini’ di media sosial.
"Kalau literasi gizi anak dan orang tua bagus, ujung-ujungnya tingkat stunting menurun," tegas Faris. Berbagai strategi ini bertujuan untuk perbaikan gizi dan kualitas hidup anak-anak di daerah rentan.
Dukungan Tanoto Foundation dan Pengembangan Kepekaan Sosial
Keterlibatan Faris dalam kerelawanan tidak lepas dari dukungan Tanoto Foundation, di mana ia merupakan penerima beasiswa S2. "Beasiswa ini memperluas wawasan dan jejaring. Alumni gathering-nya keren, kita dapat benefit ekonomi, networking, dan pengalaman," ujarnya. Program-program Tanoto Foundation memantik kepekaan sosialnya, mendorongnya tetap aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan hingga kini.
Setelah meraih gelar master pada 2017, Faris mulai mengajar di Universitas Paramadina, mewarisi semangat pendidikan dari keluarganya. "Pendidikan adalah katalis untuk menaikkan level kehidupan seseorang," katanya, menceritakan pengalaman mahasiswanya yang dari sopir bentor menjadi pengusaha video pernikahan berkat ilmu kuliah.
Tantangan Kesehatan Anak dan Ajakan Berkontribusi
Faris menyoroti bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam kesehatan ibu dan anak. "Perlu banyak kerja keras, terutama dalam mengedukasi orang tua yang sering abai terhadap nutrisi dan kebersihan anak," ujarnya. Masalah ini tidak hanya terjadi di daerah terpencil, tetapi juga di perkotaan, dengan konsumsi makanan ultra processed yang tinggi.
Untuk mengatasinya, Faris mengajak semua pihak berpartisipasi, termasuk praktisi komunikasi untuk menghasilkan konten kampanye kesehatan. "Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) bisa jadi alat bantu untuk membuat karya visual lebih atraktif," katanya. Ia menekankan bahwa kontribusi sekecil apapun berarti, sesuai prinsip hidupnya: satu persen kebaikan setiap hari.
"Dari small step, tiap hari kita buat improvement kecil yang lama-lama akumulasinya jadi besar," ujar Faris optimistis. Meski tidak seinstan efek bayam pada Popeye, optimisme dan kontribusinya dalam memerangi stunting menunjukkan kekuatan yang tak kalah dahsyat.