AKBP Ema Rahmawati Kandidat Hoegeng Awards 2026, Dedikasi Tinggi di Kasus PPA
Kasubbagbinops Direktorat Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pidana Perdagangan Orang (PPO) Bareskrim Polri, AKBP Ema Rahmawati, telah diusulkan sebagai kandidat Hoegeng Awards 2026. Pengusulnya, Siti Mazuma dari Women Crisis Center Perempuan Nusantara, mengenal AKBP Ema sejak 2011 dan memuji komitmennya yang luar biasa dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Komitmen dan Kepedulian yang Konsisten
Zuma, sapaan akrab Siti Mazuma, menyatakan bahwa AKBP Ema adalah sosok polisi perempuan yang low profile namun memiliki perspektif yang baik terhadap korban kekerasan. "Bu Ema itu orang yang punya komitmen tinggi dan selalu responsif dalam koordinasi, terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan perempuan dan anak," ujar Zuma kepada media pada Senin, 9 Maret 2026.
Dia menambahkan bahwa AKBP Ema membuat masyarakat merasa nyaman karena keberpihakannya yang jelas kepada kelompok rentan. "Bekerja sama dengan Bu Ema itu menyenangkan, karena meskipun ada tantangan, kita bisa berkoordinasi dengan baik kapan saja, bahkan di hari libur," imbuhnya.
Inisiatif dan Tanggap dalam Penanganan Kasus
AKBP Ema juga dikenal sebagai Polwan yang inisiatif, sering jemput bola dalam merespons permasalahan masyarakat terkait kasus PPA. Zuma mengungkapkan, "Beliau selalu tanggap, kapan pun dan di mana pun kita butuh pendampingan kasus. Itu yang membuat proses penanganan menjadi lebih efektif."
Harapan Zuma, AKBP Ema dapat menginspirasi lebih banyak polisi, khususnya Polwan, untuk meningkatkan kinerja dalam pemenuhan hak korban kekerasan. "Semoga Bu Ema semakin termotivasi dan menjadi teladan di tingkat kepolisian," katanya.
Perjalanan Karier dan Kontribusi di Bareskrim
Dalam penjelasan terpisah, AKBP Ema mengungkapkan bahwa dirinya mulai berkecimpung di bidang PPA Bareskrim Polri sejak 2010, dengan fokus lebih intens sejak 2016. Dia berperan penting dalam merintis pembentukan Direktorat PPA di Mabes Polri serta unit-unit serupa di tingkat Polda dan Polres.
"Saya tahu betul perjalanan perkembangan unit PPA ini, dari yang awalnya hanya unit kecil hingga menjadi direktorat yang solid," ujar AKBP Ema. Meski tidak banyak menangani kasus langsung—karena Bareskrim hanya menangani kasus dengan kriteria khusus seperti lintas provinsi atau melibatkan pejabat—dia aktif dalam pembinaan dan pengawasan penyidik PPA di daerah.
Alasan di Balik Dedikasi yang Tak Kenal Lelah
AKBP Ema mengaku terpanggil untuk melindungi perempuan dan anak karena kekhawatiran atas peningkatan keterlibatan mereka dalam tindak kejahatan. "Saya miris melihat kasusnya yang banyak dan kompleks, modus operandi yang berkembang, bahkan tren kejahatan di dunia maya," katanya.
Dia merasa nyaman dengan tugas-tugasnya di bidang PPA dan PPO, menganggapnya sebagai keahlian yang telah dikuasai. "Mungkin saya sudah lama di sini, jadi tidak terpikir untuk pindah ke fungsi lain. Ini bidang saya, dan saya berkomitmen untuk terus berkontribusi," tegas AKBP Ema.



