Warga Binaan Lapas Pangkalpinang Sulap Ampas Batu Bara PLTU Jadi Pupuk Kompos
Dari balik tembok tinggi Lapas Kelas IIA Pangkalpinang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tercipta sebuah terobosan lingkungan yang mengagumkan. Para warga binaan berhasil menyulap ampas pembakaran batu bara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 3 Bangka menjadi pupuk kompos bernutrisi tinggi.
Inovasi dari Balik Jeruji Besi
Dengan ketekunan dan kreativitas, para warga binaan meracik ampas batu bara yang sebelumnya hanya menjadi limbah menjadi nutrisi tanah yang kaya akan unsur makro. Pupuk kompos ini siap menyuburkan lahan-lahan pertanian di wilayah Bangka Belitung, yang dikenal sebagai Negeri Laskar Pelangi.
Kepala Lapas Pangkalpinang, Sugeng Indrawan, menyatakan kebanggaannya atas karya para warga binaan tersebut. "Ini adalah buah dari ketekunan sejak program pelatihan dimulai pada 2025 lalu," ujarnya melalui keterangan tertulis pada Rabu, 18 Februari 2026.
Sugeng menambahkan bahwa pihaknya berupaya mewujudkan pemanfaatan sumber daya yang ada di lapas dengan dukungan berbagai pihak. Komitmen ini tidak hanya sekadar wacana, tetapi telah diwujudkan dengan pengiriman sebanyak 6 ton kompos ke kelompok tani di Bangka Tengah.
Kolaborasi Multisektor yang Produktif
Program inovatif ini merupakan hasil sinergi antara:
- Lapas Pangkalpinang
- UMKM Green Soil Bangka Tengah
- PT PLN Nusantara Power Services Unit PLTU 3 Bangka
Plt Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kepulauan Bangka Belitung, Gunawan Sutrisnadi, memberikan apresiasi tinggi atas inovasi ini. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan 15 program akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.
"Pengiriman perdana 6 ton kompos karya warga binaan Lapas Pangkalpinang ini menjadi kebanggaan Pemasyarakatan Bangka Belitung," kata Gunawan. "Kami berharap ini terus meningkat serta menginspirasi inovasi di lapas lain."
Manfaat Ganda: Lingkungan dan Pemberdayaan
Manager Unit PLTU 3 Bangka, I Gusti Ngurah Putra Astawa, menjelaskan bahwa ampas sisa pembakaran batu bara atau yang dikenal sebagai fly ash dan bottom ash memang memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Fly ash mengandung unsur hara makro setara Nitrogen, Fosfor, Kalium (NPK) serta silika yang berfungsi membantu menetralisir kondisi tanah di Bangka.
"Kami mengapresiasi kolaborasi dengan Lapas Pangkalpinang yang dinilai memberi keterampilan bagi warga binaan sekaligus menghadirkan solusi lingkungan," pungkas Putra.
Program ini membuktikan bahwa pemberdayaan warga binaan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Sugeng Indrawan menegaskan harapannya agar dukungan semua pihak terus mengalir sehingga program pembinaan di lapas dapat berkelanjutan, mendorong kemandirian, serta mencegah pengulangan tindak pidana bagi warga binaan.
Ke depan, sinergi ini diharapkan dapat diperkuat melalui peningkatan kapasitas produksi, perluasan pemasaran, dan pengembangan pelatihan berkelanjutan. Inovasi dari Lapas Pangkalpinang ini tidak hanya menyelesaikan masalah limbah batu bara, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dan sosial yang positif bagi seluruh pihak yang terlibat.