Suami Laporkan Istri ke Polisi karena Melahirkan di RS Berbeda
Suami Laporkan Istri ke Polisi karena Melahirkan di RS Berbeda

Seorang perempuan berinisial KC di Bali dilaporkan suaminya sendiri, RSL, ke Polresta Denpasar atas dugaan penggelapan asal-usul orang. Kasus ini bermula dari persalinan KC yang terjadi lebih awal di rumah sakit yang berbeda dari yang dipilih suaminya.

Kronologi Persalinan

KC melahirkan bayi mereka pada 14 Februari 2026 di RS Prima Medika, sementara suaminya menginginkan persalinan pada 22 Februari 2026 di RS BaliMed. Menurut kuasa hukum KC, Siti Sapurah atau Ipung, kliennya mengalami kontraksi darurat sehingga harus menjalani operasi Caesar pada tanggal tersebut.

Pelaporan dilakukan RSL pada Maret 2026 dengan Pasal 401 KUHP tentang Penggelapan Asal-Usul Orang. Dasar pelaporan adalah nama RSL tidak tercantum sebagai penjamin dalam administrasi rumah sakit, melainkan nama ibu kandung KC.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Bantahan Kuasa Hukum

Ipung menegaskan bahwa objek hukum yang dituduh digelapkan tidak ada, karena anak tersebut belum memiliki akta kelahiran dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Akta pernikahan antara KC dan RSL disebut masih ditahan sejak sebelum persalinan. "Dasar hukum dari Pasal 401 adalah akta kelahiran anak. Akta kelahiran anak ini tidak ada. Siapa yang disembunyikan identitasnya?" ujar Ipung.

Selain itu, KC mengaku sudah tidak bertemu suaminya sejak Januari 2026 dan tidak tinggal bersama sejak usia kehamilan dua bulan. Pada Selasa (21/7), KC dan ibunya memenuhi panggilan penyidik sebagai terlapor. Ibunya dijadwalkan diperiksa pada Kamis berikutnya. Ipung berharap pelaporan ini dihentikan.

Tanggapan Polresta Denpasar

Polresta Denpasar membenarkan adanya laporan tersebut. Kasi Humas Polresta Denpasar, Iptu I Gede Adi Saputra Jaya, menyatakan penyidik telah melakukan langkah-langkah penyidikan sejak laporan diterima pada 10 Maret 2026. Enam saksi telah diperiksa, dan pihaknya berencana memeriksa saksi ahli untuk mengidentifikasi barang bukti. "Butuh koordinasi dan komunikasi terkait dengan ahli-ahli. Ada beberapa ahli secara scientific," imbuhnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga