Pembunuhan Sadis Siswa SMPN 26 Bandung oleh Teman Sendiri di Eks Kampung Gajah
Pembunuhan Siswa SMPN 26 Bandung oleh Teman di Eks Kampung Gajah

Pembunuhan Sadis Siswa SMPN 26 Bandung oleh Teman Sendiri di Eks Kampung Gajah

Kota Bandung diguncang oleh kasus pembunuhan yang sangat tragis. Seorang siswa SMP Negeri 26 Bandung bernama ZAAQ ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di tangan dua temannya sendiri, yaitu YA (16 tahun) dan AP (17 tahun). Kejadian ini terjadi di lahan eks Kampung Gajah, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.

Korban Tewas dengan Luka Tusuk dan Robekan di Kepala

Jasad remaja berusia 14 tahun itu ditemukan pada hari Jumat, 13 Februari 2026. Hasil autopsi menunjukkan bahwa korban mengalami luka-luka serius akibat tusukan senjata tajam di bagian perut dan pukulan benda tumpul yang menyebabkan robekan di kepala. Temuan ini mengonfirmasi kekejaman aksi pembunuhan tersebut.

Kepala Desa Margahayu, Uce Saepurohma, mengungkapkan keterkejutannya atas peristiwa ini. "Kami semua di sini sangat kaget. Tidak menyangka anak bisa melakukan tindakan yang sadis seperti ini," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan betapa terpukulnya masyarakat setempat.

Profil Pelaku: AP Tukang Dekorasi dan YA Remaja Nakal

Menurut informasi yang dihimpun, tersangka AP diketahui sudah tidak bersekolah meskipun usianya masih di bawah umur. Sehari-hari, dia bekerja sebagai tukang pasang dekorasi untuk pesta pernikahan. Sementara itu, YA dikenal oleh warga sebagai remaja yang cukup nakal. Awalnya, kenakalannya dianggap biasa, tetapi ternyata berkembang menjadi tindakan kriminal yang serius.

Uce menambahkan bahwa YA sempat dikeluarkan dari sekolah selama kurang lebih satu tahun, tetapi kemudian aktif kembali bersekolah. "Sempat dikeluarkan kurang-lebih 1 tahunan. Tapi aktif masuk sekolah lagi," jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa masalah perilaku YA tidak sepenuhnya terselesaikan.

Riwayat Hubungan Tidak Sehat dan Kekerasan

Kerabat korban, Undang Supriatna, mengungkapkan bahwa hubungan antara ZAAQ dan YA telah terjalin sejak mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun, keluarga menilai relasi tersebut tidak sehat. Karena kekhawatiran, ZAAQ dipindahkan ke Bandung dengan harapan dapat menjauh dari pelaku.

Sayangnya, upaya ini tidak berhasil. Pelaku ternyata rutin mendatangi korban. Belakangan, keluarga mengetahui bahwa ZAAQ kerap mengalami kekerasan. Ketika ZAAQ hilang kontak, kecurigaan langsung tertuju pada YA. Bahkan, sehari setelah korban dinyatakan hilang, keluarga sudah menyampaikan dugaan tersebut kepada pihak kepolisian.

"Karena kami sudah menyangka jika pelaku adalah dia (YA). Temannya sendiri, warga sini," kata Undang. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa keluarga telah memiliki firasat buruk mengenai hubungan tersebut.

Dampak dan Refleksi Masyarakat

Kasus ini tidak hanya menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap lingkungan pergaulan remaja. Aksi keji yang dilakukan oleh teman sendiri menimbulkan pertanyaan tentang faktor-faktor yang mendorong remaja terlibat dalam kekerasan ekstrem.

Masyarakat diharapkan lebih waspada dan aktif dalam memantau perkembangan anak-anak, terutama dalam hubungan pertemanan yang berpotensi negatif. Pihak sekolah dan keluarga perlu bekerja sama untuk mendeteksi dini tanda-tanda kekerasan atau perilaku menyimpang pada remaja.

Dengan demikian, tragedi ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya pengawasan dan pendidikan karakter bagi generasi muda, agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.