Partai Kecoak (Cockroach Janta Party/CJP) yang lahir dari respons satire terhadap komentar pejabat India kini bergerak ke jalanan. Gerakan ini menuntut mundurnya Menteri Pendidikan Federal India, Dharmendra Pradhan, atas dugaan kegagalan mencegah kebocoran soal ujian dan penyimpangan dalam ujian penting bagi kaum muda.
Awal Mula Partai Kecoak
Partai Kecoak diinisiasi oleh Abhijeet Dipke (30), lulusan hubungan masyarakat dari Universitas Boston, AS. Ide ini muncul sebagai respons atas pernyataan Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, pada Mei 2026. Dalam sidang terbuka, Surya Kant menyebut "parasit" menyerang sistem dan menyamakan kaum muda dengan kecoak yang tidak mendapatkan pekerjaan atau tempat dalam profesi apa pun.
"Ada kaum muda seperti kecoak, yang tidak mendapatkan pekerjaan atau memiliki tempat dalam profesi apa pun. Beberapa dari mereka menjadi media, beberapa menjadi media sosial, aktivis RTI dan aktivis lainnya, dan mereka mulai menyerang semua orang," kata Surya Kant. Sindiran itu direspons Dipke dengan membentuk Partai Janta Kecoak ("janta" berarti rakyat dalam bahasa Hindi). Partai ini berkembang pesat setelah diikuti banyak pemuda India di media sosial.
Aksi Protes di Jantar Mantar
Gerakan ini memulai aksi demonstrasi pada 6 Juni 2026, bertepatan dengan kepulangan Dipke ke India setelah menyelesaikan studi di AS. Ia langsung menuju kawasan Jantar Mantar di New Delhi untuk menggalang unjuk rasa perdana. Dalam aksi tersebut, mereka menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Federal Dharmendra Pradhan.
Meski demikian, unjuk rasa di New Delhi disebut "sedikit antiklimaks" karena diikuti kurang dari 2.000 orang. Dipke mendesak Pradhan mundur paling lambat pukul 17.00 hari itu. "Namun, ini tidak berakhir di sini. Dharmendra Pradhan telah merugikan seluruh generasi. Jika ia tidak dicopot atau tidak mengundurkan diri dalam tujuh hari ke depan, kami terpaksa akan melanjutkan aksi protes kami di lapangan," tulis Dipke di platform X pada 7 Juni.
Gerakan Terus Meluas
Saurav Das, juru bicara CJP, mengatakan aksi di New Delhi berhasil menarik perhatian. Ia mengakui CJP bukan organisasi resmi dan baru sebulan dibentuk, namun telah mampu menggerakkan massa. "Ada banyak tantangan dalam menggerakkan orang di lapangan. Kami bukan organisasi terdaftar atau serikat pekerja. Untuk memiliki struktur semacam itu, akan membutuhkan waktu. Begitu kami memilikinya, menggerakkan orang juga akan lebih mudah," ujarnya.
Sebulan berlalu, gerakan Partai Kecoak tidak padam. Ribuan demonstran kembali berkumpul di pusat ibu kota India pada Senin (20 Juli 2026) untuk menuntut pengunduran diri Pradhan dan reformasi ujian yang lebih luas. Aksi ini menjadi wujud unjuk kekuatan CJP yang kini sangat populer di India.
Tantangan bagi Pemerintah Modi
CJP telah meraih jutaan pengikut di media sosial sejak diluncurkan pada Mei 2026. Gerakan ini memberikan salah satu tantangan terbesar bagi Perdana Menteri Narendra Modi yang berhaluan nasionalis Hindu, sejak ia memenangkan masa jabatan ketiganya pada 2024. "Kami tidak akan berhenti. Pradhan harus dicopot," tegas perwakilan CJP, Ashutosh Ranka, dalam pernyataan terbaru via media sosial, seperti dilansir AFP, Selasa (21 Juli 2026).
Ratusan demonstran masih berkemah di lokasi unjuk rasa di area Jantar Mantar pada Selasa (21 Juli) waktu setempat, dengan banyak di antara mereka menyerukan perubahan lebih luas dalam sistem pendidikan di India.



