Kapal Feri MV Barima Terbalik di Guyana, 41 Tewas dan Puluhan Hilang
Kapal Feri MV Barima Terbalik di Guyana, 41 Tewas

Kecelakaan laut tragis terjadi di Guyana ketika kapal feri MV Barima terbalik di lepas pantai pada akhir pekan lalu, menewaskan sedikitnya 41 orang. Kapal tersebut sedang dalam perjalanan dari ibu kota Georgetown menuju Port Kaituma di wilayah pedalaman Essequibo, Guyana, sebelum terbalik pada Sabtu (18/7) malam.

Korban dan Upaya Penyelamatan

Pemerintah setempat melaporkan bahwa total 41 jenazah telah ditemukan hingga Selasa. "Penemuan jenazah pertama hari ini dilakukan pada pukul 10.15 pagi (14.15 GMT), dan 14 jenazah telah dievakuasi hingga pukul 13.00 hari Selasa," demikian bunyi pernyataan resmi. Upaya pencarian korban selamat yang intensif telah dilakukan sejak Minggu pagi, dan sejauh ini 77 orang telah diselamatkan. Namun, puluhan lainnya masih dinyatakan hilang.

Ketidakakuratan Manifes dan Jumlah Penumpang

Menteri Pekerjaan Umum Guyana, Juan Edghill, mengungkapkan bahwa sebelumnya terjadi ketidakpastian mengenai jumlah orang yang terlibat dalam tragedi ini akibat manifes penumpang yang tidak akurat. Manifes awal mencatat 133 orang di dalam kapal, namun Perdana Menteri Guyana Mark Phillips menyatakan keyakinannya bahwa terdapat 179 orang di dalam kapal saat kecelakaan terjadi. Perbedaan ini menyulitkan proses identifikasi dan pencarian korban.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Awak Kapal Positif Ganja

Mark Phillips juga mengungkapkan bahwa dua awak kapal feri yang sudah tua itu dinyatakan positif menggunakan ganja setelah insiden tersebut. "Dua awak kapal feri yang sudah tua itu dinyatakan positif menggunakan ganja setelah insiden tersebut," kata Mark kepada wartawan pada Minggu kemarin, seraya menambahkan bahwa penyelidikan sedang berlangsung. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai faktor human error dalam kecelakaan tersebut.

Kapal Tua dan Perjalanan Berbahaya

Menurut situs web pelayaran VesselFinder, kapal feri MV Barima dibuat pada tahun 1939, menjadikannya kapal yang sangat tua. Kapal tersebut memulai perjalanannya pada sore hari dan panggilan darurat diterima sekitar delapan jam kemudian. Rute perjalanan biasanya melalui laut sebelum memasuki sungai untuk tiba di Port Kaituma, yang terletak jauh di dalam kawasan hutan hujan lebat. Kondisi geografis yang menantang dan usia kapal diduga menjadi faktor penyebab kecelakaan.

Dampak dan Penyelidikan Lanjutan

Tragedi ini menjadi salah satu kecelakaan laut terparah di Guyana dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah Guyana terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti terbaliknya kapal. Sementara itu, keluarga korban menunggu kepastian nasib anggota mereka yang masih hilang. Otoritas setempat juga berjanji akan memperketat pengawasan dan regulasi keselamatan pelayaran untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga