Delapan mahasiswa Korea Selatan (Korsel) kini ditahan dan tengah menjalani penyelidikan oleh kepolisian setempat setelah kedapatan mencoba menyusup ke Pangkalan Udara Osan, salah satu pangkalan utama Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) di Korsel. Insiden ini terjadi di tengah aksi protes yang mereka lakukan terhadap kehadiran militer AS di kota Gwangju, yang dinilai dapat menghambat rencana besar pembangunan klaster industri chip di wilayah tersebut.
Kronologi Penyusupan dan Penahanan
Berdasarkan laporan AFP dan Anadolu Agency pada Rabu (5/8/2026), para mahasiswa yang merupakan anggota Serikat Mahasiswa Progresif Korea itu berkumpul di luar Pangkalan Udara Osan, yang terletak sekitar 50 kilometer di sebelah selatan Seoul, pada Selasa (4/8) waktu setempat. Mereka membawa sejumlah poster dan meneriakkan slogan-slogan anti-AS, termasuk yang menentang keberadaan Pasukan Udara ke-7 AS.
Dalam aksinya, enam dari delapan mahasiswa tersebut nekat memasuki area pangkalan udara sambil terus berteriak. Sementara itu, dua mahasiswa lainnya berhasil dicegat oleh petugas keamanan di gerbang masuk sebelum sempat melangkah lebih jauh. Militer AS dalam pernyataan resminya mengonfirmasi bahwa delapan orang telah ditahan pada hari yang sama setelah mereka "berupaya masuk secara ilegal ke Pangkalan Udara Osan melalui gerbang utama instalasi tersebut."
Proses Hukum dan Sikap Kepolisian
Militer AS kemudian menyerahkan kedelapan mahasiswa tersebut kepada Kepolisian Nasional Korea. Pihak kepolisian dalam pernyataannya kepada AFP membenarkan bahwa para mahasiswa kini ditahan, namun mereka menolak untuk memberikan keterangan selama pemeriksaan berlangsung. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak kampus atau keluarga mahasiswa terkait insiden ini.
Serikat Mahasiswa Progresif Korea sendiri, melalui unggahan di Facebook, mengecam keras "gangguan" militer AS terhadap proyek klaster industri chip yang direncanakan di Gwangju. Mereka menilai kehadiran pangkalan militer AS di area tersebut akan mempersulit realisasi proyek yang diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi Korsel.
Dampak pada Industri Chip Korsel
Korsel tengah menikmati keuntungan besar dari lonjakan permintaan kecerdasan buatan (AI) global yang mendorong pertumbuhan manufaktur bagi perusahaan-perusahaan chip seperti SK Hynix dan Samsung Electronics. Kedua raksasa teknologi ini berencana membangun pusat manufaktur baru di Gwangju dengan nilai investasi mencapai 800 triliun Won.
Bulan lalu, kantor kepresidenan Korsel mengungkapkan bahwa Seoul dan Washington telah memulai konsultasi mengenai relokasi bandara di area tersebut, yang sebagian digunakan oleh militer AS. Langkah ini dianggap penting untuk membuka lahan bagi pembangunan klaster industri chip yang ambisius tersebut.
Reaksi dan Implikasi Lebih Luas
Insiden penyusupan ini memicu perdebatan di kalangan publik Korsel mengenai hubungan militer dengan AS dan dampaknya terhadap pembangunan ekonomi domestik. Sebagian pihak menilai aksi mahasiswa tersebut sebagai bentuk protes yang sah terhadap kebijakan yang dianggap merugikan kepentingan nasional, sementara yang lain mengkritik tindakan mereka karena dianggap melanggar hukum.
Pangkalan Udara Osan sendiri merupakan salah satu instalasi militer AS terpenting di Semenanjung Korea, yang menjadi pusat komando operasi udara AS di kawasan tersebut. Keamanan di sekitar pangkalan biasanya dijaga ketat, sehingga upaya penyusupan seperti ini merupakan hal yang jarang terjadi.
Hingga berita ini diturunkan, proses penyelidikan terhadap kedelapan mahasiswa masih terus berjalan. Belum ada keterangan resmi mengenai kemungkinan tuntutan hukum yang akan diajukan terhadap mereka.



