Isi Surat Kepala SPPG yang Tewas Gantung Diri di Parkiran Mal Bandung
Surat Kepala SPPG Tewas Gantung Diri di Parkiran Mal Bandung

Kronologi Penemuan Jenazah

Seorang pria berinisial SF (26) ditemukan tewas gantung diri di area parkir lantai 12 sebuah mal di Kota Bandung, Jawa Barat, pada Senin (13/7). SF diketahui bekerja sebagai Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bandung. Polisi dari Polsek Regol segera mendatangi lokasi setelah menerima laporan dan melakukan olah tempat kejadian perkara.

Barang Bukti dan Surat Wasiat

Kapolsek Regol, Kompol Megawati Triyani, mengonfirmasi bahwa polisi mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk handphone, sandal, KTP, dan yang paling menonjol adalah secarik surat tulisan tangan yang diduga berisi pesan terakhir korban. "Jadi ada barang yang diamankan, handphone, sandal, KTP dan satu surat tulis tangan permohonan maaf kepada pihak keluarga," ujar Kompol Megawati.

Isi Surat Permohonan Maaf

Surat tersebut ditulis dalam bahasa Sunda dan telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Berikut isi surat yang diduga ditulis korban:

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Mah, pa, teh, aa maafin Pian ya kalau jarang bercerita atau ngobrol. Pian suka tidur terus, diem terus di kamar, belum bisa berpikir dewasa, mengecewakan keluarga. Maaf. Yulia maafin a pian ya, makasih ya udah mau bertahan selama setahun menemani. Mohon maaf jika di luar ekspektasi Yulia. Maafkan a Pian buat marah terus, kecewa terus. Buat rekan kerja dapur, maafin saya banyak kurangnya, saya belum pantes mendapatkan posisi itu. Saya tidak bisa bekerja dengan semestinya. Maaf jadi beban kalian. Untuk diri saya, maafin saya, jika saya penakut mental lemah, tidak pandai bersosial, pendiam, jadi beban orang lain, pemalu, mudah stres, mudah deg-degan, dipendam sendiri. Terima kasih ya Allah, diberikan rezeki atau pekerjaan. Tapi saya tidak bisa menjalaninya, banyak ketakutan."

Sikap Keluarga

Keluarga korban telah mengikhlaskan kepergian SF. Mereka bahkan menolak untuk dilakukan autopsi terhadap jenazah. "Pihak keluarga juga sudah ikhlas, tapi kita tetap melakukan identifikasi menunggu hasil dari Sartika Asih," ungkap Kompol Megawati.

Pencegahan Bunuh Diri

Bunuh diri bukanlah jawaban atau solusi dari permasalahan hidup. Bila Anda, teman, saudara, atau keluarga yang Anda kenal mengalami masa sulit, dilanda depresi, dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat. Anda juga bisa mengunduh aplikasi Sahabatku atau menghubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga