Di tengah masyarakat, tidak semua orang memiliki pandangan yang berpihak pada korban, khususnya dalam kasus kekerasan seksual. Korban kekerasan atau pelecehan seksual seringkali menghadapi berbagai stigma, baik di lingkungan sosial maupun di ruang digital yang semakin luas.
Stigma yang Menghantui Korban
Pertanyaan-pertanyaan seperti "kenapa tidak teriak?" atau "mengapa tidak melawan saat akan dilecehkan?" masih kerap muncul dalam percakapan sehari-hari. Pertanyaan semacam ini tanpa disadari dapat menyudutkan dan menyalahkan korban, alih-alih memberikan dukungan yang diperlukan.
Kondisi Freeze: Respons Alami dalam Situasi Traumatis
Jangan terburu-buru menyalahkan korban, karena kondisi freeze yang seringkali dialami saat kejadian memiliki penjelasan psikologis yang mendalam. Freeze adalah respons alami tubuh ketika menghadapi ancaman ekstrem, di mana sistem saraf otomatis masuk ke mode bertahan hidup.
Dalam situasi kekerasan seksual, korban mungkin mengalami ketidakmampuan untuk bergerak, berbicara, atau bereaksi secara fisik. Ini bukan tanda kelemahan, melainkan mekanisme pertahanan psikologis yang kompleks. Otak dan tubuh korban sedang berusaha mengatasi trauma dengan cara yang tidak selalu terlihat oleh orang luar.
Pentingnya Edukasi Masyarakat
Memahami kondisi freeze dan respons psikologis korban adalah langkah penting untuk mengurangi stigma. Masyarakat perlu diedukasi bahwa setiap korban dapat bereaksi berbeda-beda, dan tidak ada respons yang 'benar' atau 'salah' dalam situasi traumatis seperti kekerasan seksual.
Dengan pemahaman ini, diharapkan dukungan terhadap korban dapat meningkat, dan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan dapat digantikan dengan empati serta bantuan yang konstruktif. Ruang digital, sebagai bagian dari kehidupan modern, juga harus menjadi tempat yang aman bagi korban untuk berbicara tanpa takut dihakimi.