Lebih dari 160 Orang Ditangkap di Turki Usai Penembakan di Dua Sekolah
160 Orang Ditangkap di Turki Usai Penembakan di Sekolah

Lebih dari 160 Orang Ditangkap di Turki Usai Penembakan di Dua Sekolah

Pihak berwenang Turki telah menahan lebih dari 160 orang terkait dengan dua serangan senjata api mematikan di sekolah yang terjadi dalam dua hari berturut-turut. Para tersangka dituduh menyebarkan informasi menyesatkan dan memuji penembakan di sekolah yang terjadi minggu ini, sebagaimana diumumkan oleh Menteri Kehakiman Turki, Akin Gürlek, melalui platform X.

Penyebaran Konten yang Memicu Kepanikan

Gürlek menjelaskan bahwa 95 orang ditahan karena telah menyebarkan gambar dan video terkait insiden tersebut. Konten-konten tersebut berpotensi memicu ketakutan dan kepanikan di kalangan masyarakat, sehingga pemblokiran informasi telah diberlakukan. Selain itu, 35 tersangka lainnya masih dalam pencarian, sementara akses ke 1.104 akun media sosial telah diblokir.

Penyidik juga telah mengidentifikasi akun-akun yang secara khusus menargetkan sekolah-sekolah dan mengisyaratkan kemungkinan serangan. Sebanyak 67 pengguna akun terkait dengan postingan tersebut telah ditangkap. Pelaku diduga memperoleh senjata dari sang ayah, seorang mantan polisi yang kini telah ditangkap bersama ibu pelaku.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Detil Serangan di Kahramanmaras

Pada hari Rabu (15/4), seorang remaja berusia 14 tahun menembak mati delapan siswa dan seorang guru di kota Kahramanmaras, Turki selatan, dengan 13 lainnya terluka. Beberapa korban harus dirawat di unit perawatan intensif, tiga di antaranya sempat berada dalam kondisi kritis.

Menurut otoritas berwenang, remaja tersebut membawa beberapa senjata api dan tujuh tabung berisi peluru ke sekolah dalam sebuah ransel. Siswa tersebut menerobos masuk ke dua ruang kelas dan menggencarkan tembakan secara membabi buta. Dalam sebuah video yang direkam oleh seorang warga dan diverifikasi oleh kantor berita AFP, terlihat anak-anak melompat dari jendela lantai satu dalam keadaan panik sementara yang lainnya melarikan diri melintasi halaman sekolah. Dalam rekaman berdurasi sekitar satu setengah menit itu, terdengar teriakan serta 15 kali tembakan.

Larangan Pemberitaan dan Investigasi

Pihak berwenang memberlakukan larangan pemberitaan detail kasus ini. Saksi mata menggambarkan adegan-adegan dramatis, seperti yang diungkapkan oleh Ömer Erdag kepada AFP: "Anak saya menjadi saksi. Dia berkata, 'Ayah, teman saya terluka'. Ia tidak melihat anak-anak lainnya. Ada banyak darah di dalam."

Rekaman dari kantor berita IHA juga menunjukkan bagaimana sebuah jenazah yang ditutupi dibawa ke ambulans. Di depan sekolah, banyak orang tua yang menangis menunggu. Pelaku sendiri tewas, dan menurut pihak berwenang, belum jelas apakah pelaku bunuh diri atau telah terjadi kekacauan yang menewaskannya, kata Gubernur Kahramanmaras, Mükerrem Ünlüer. Kejaksaan Agung telah memulai penyelidikan.

Serangan Kedua di Siverek

Pada hari Selasa (14/4), seorang mantan siswa di kota Siverek, bagian tenggara, telah melepaskan tembakan di sekolah lamanya dan melukai 16 orang. Di antara korban terdapat sepuluh siswa, empat guru, seorang polisi, dan seorang pegawai kantin. Pelaku kemudian bunuh diri.

Jejak Digital dan Motivasi Pelaku

Jejak digital dari aksi penembakan tersebut menjadi fokus utama. Pada profil WhatsApp-nya, remaja pelaku penembakan di Kahramanmaras merujuk pada Elliot Rodger, pelaku penyerangan asal AS di tahun 2014 yang membunuh enam orang di California dan kemudian bunuh diri. Sebelumnya, pelaku telah mengungkapkan rasa frustrasi atas keperjakaannya dan penolakan dari para perempuan. Pihak berwenang kini menyelidiki kemungkinan hubungan antara konten online dengan tindakan kekerasan serta secara khusus menindak komentar-komentar terkait melalui surat perintah penangkapan.

Respons Pemerintah dan Demonstrasi Guru

Rangkaian kekerasan ini telah memicu kekhawatiran di seluruh negeri. Presiden Recep Tayyip Erdogan menyebutnya sebagai "serangan tragis" dan berjanji akan melakukan penyelidikan menyeluruh. Ketua Parlemen Numan Kurtulmus menyatakan, "Hati kami hancur. Kami menyampaikan belasungkawa kepada seluruh bangsa." Di Kahramanmaras, sekolah-sekolah ditutup sementara.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Tekanan terhadap pemerintah juga semakin meningkat. Di ibu kota Ankara, lebih dari 3.500 guru berdemonstrasi dan menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan. Para demonstran meneriakkan slogan seperti "Darah telah menodai profesi saya" dan "Di manakah kalian saat anak-anak tewas?"

Konteks Kepemilikan Senjata di Turki

Serangan senjata api relatif jarang terjadi di Turki. Pada Mei 2023, seorang siswa yang dikeluarkan dari sekolah menembak mati kepala sekolah berusia 74 tahun di sekolah lamanya, memicu perdebatan di seluruh negeri. Ribuan guru saat itu merespon dengan berdemonstrasi di Istanbul, menuntut pengamanan yang lebih baik di sekolah-sekolah.

Di Turki, kepemilikan senjata api diatur secara ketat dengan persyaratan pendaftaran, izin khusus, bukti kelayakan psikologis, dan pemeriksaan riwayat kriminal. Kepemilikan senjata api ilegal dikenakan hukuman berat. Namun, menurut perkiraan sebuah yayasan Turki, masih banyak senjata api yang beredar di Turki, sebagian besar di antaranya ilegal.