Kekeringan Gunungkidul: Warga Rongkop Jual Ternak Demi Beli Air Bersih
Kekeringan Gunungkidul: Warga Jual Ternak Beli Air

Warga di Dusun Kemesu, Desa Semugih, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terpaksa menjual hewan ternak milik mereka demi bisa memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kemarau tahun ini. Sebanyak 68 kepala keluarga (KK) di dusun tersebut setiap tahun mengalami kekeringan, dan pada 2026 kesulitan air sudah dirasakan sejak April-Mei lalu.

Warga Jual Ayam dan Kambing untuk Air Bersih

Sutopo (46), warga Kemesu, menuturkan bahwa warganya mayoritas petani dan tidak memiliki sumber air. Selama ini mereka hanya mengandalkan penampungan air hujan (PAH), sementara saluran PDAM yang ada di tiga titik hanya bisa mengalir seminggu sekali. Untuk memenuhi kebutuhan harian, warga terpaksa menjual sebagian hewan ternak, terutama ayam kampung, dan beberapa juga melego kambing muda jika memiliki stok lebih.

"Mayoritas karena memang 90 persen petani, kemudian anak-anaknya yang muda merantau ke Jogja maupun ke Solo, jadi ya hanya tinggal orang tuanya yang sudah sepuh, yang sudah tua, ya apa yang mereka miliki saja untuk bisa dijual buat bisa membeli air," jelas Sutopo saat dihubungi, Selasa (28/7). Ia menambahkan, penjualan ternak tidak dilakukan secara besar-besaran, hanya mengurangi satu atau dua ekor ayam agar bisa membeli air.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Harga Air dan Ternak: Satu Tangki Rp120 Ribu

Sutopo sendiri tahun ini sudah dua kali menjual ayam kampung miliknya. Seekor ayam dewasa dibanderol sekitar Rp40 ribu. Sementara itu, satu tangki air bersih yang didatangkan dari wilayah Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah, harganya mencapai Rp120 ribu. Satu tangki tersebut biasanya bisa memenuhi kebutuhan harian satu KK rata-rata selama satu hingga dua pekan, termasuk sebagian untuk minum ternak yang tersisa.

Pola menjual ternak untuk membeli air ini sudah menjadi semacam tradisi bagi masyarakat Kemesu saat musim kemarau tiba. Ketika kemarau, warga juga harus membeli pakan ternak dari luar karena rumput kering akibat tidak ada hujan.

Harapan Warga: Deteksi Sumber Air dan Sumur Bor

Sutopo yang juga anggota Relawan Muslim Gunungkidul itu sering memanfaatkan koneksinya untuk mendatangkan bantuan air bersih. Meski bantuan pemerintah sudah ada, ia berharap pemerintah membantu mendeteksi sumber air dan mendirikan sumur bor di wilayahnya. "Kami memang sudah bertahun-tahun tidak mendapati sumber air, baik itu sungai maupun sungai bawah tanah. Tapi kami harapan kami ada pihak terkait pihak pemerintah bisa membantu kami mungkin dideteksi ada sumber air di dalam tanah sehingga kami bisa mendapatkan air bersih," ucapnya.

BPBD Gunungkidul: 1.150 Tangki Air Dialokasikan

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan bahwa tahun ini instansinya mengalokasikan anggaran untuk penyaluran sebanyak 1.150 tangki air bersih. Hingga Selasa (28/7), bantuan yang telah disalurkan mencapai 128 tangki dengan kapasitas 5.000 liter per tangki.

Rinciannya, 40 tangki disalurkan ke warga di Kecamatan Tepus, 16 tangki ke Wonosari, 16 tangki ke Panggang, dan 56 tangki ke Rongkop yang menjadi penerima terbanyak. "Bantuan terus disalurkan dengan catatan ada permintaan secara resmi," kata Purwono, Senin (27/7).

12 Kecamatan Miliki Anggaran Droping Air Mandiri

Purwono menambahkan, penyaluran bantuan air bersih tidak hanya dilakukan oleh BPBD. Sebanyak 12 kecamatan memiliki anggaran droping air sendiri, yaitu Purwosari, Panggang, Paliyan, Tanjungsari, Tepus, Rongkop, Girisubo, Patuk, Gedangsari, Nglipar, Semanu, dan Ponjong. Sementara kecamatan yang tidak memiliki anggaran tersebut meliputi Wonosari, Saptosari, Karangmojo, Playen, Semin, dan Ngawen.

Per Juli 2026, bantuan air bersih secara mandiri telah disalurkan oleh Kecamatan Rongkop, Girisubo, Tepus, Tanjungsari, Panggang, Purwosari, dan Semanu. "Berdasarkan monitoring yang dilakukan, bantuan air sudah disalurkan ke delapan kapanewon," tutur Purwono.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga