Gunung Slamet, salah satu gunung berapi aktif di Jawa Tengah, saat ini berada dalam status Waspada (Level II) menyusul peningkatan signifikan aktivitas vulkaniknya. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat lonjakan suhu kawah dan frekuensi gempa yang memicu imbauan kewaspadaan bagi masyarakat sekitar.
Peningkatan Suhu Kawah dan Aktivitas Kegempaan
Kepala PVMBG Priatin Hadi Wijaya mengungkapkan bahwa suhu kawah Gunung Slamet mengalami peningkatan drastis. Sebelum Maret 2026, suhu berkisar 280 derajat Celcius, kemudian naik menjadi 418 derajat Celcius, dan terbaru mencapai sekitar 460 derajat Celcius. Bahkan pada 18 April 2026, suhu sempat mencapai 478 derajat Celcius. Data kegempaan juga menunjukkan peningkatan gempa berfrekuensi rendah yang mengindikasikan pergerakan magma ke kedalaman lebih dangkal.
Radius Aman Diperluas dan Imbauan Kewaspadaan
Menyikapi perkembangan ini, PVMBG memperluas radius aman dari 2 km menjadi 3 km sejak 4 April 2026. Masyarakat dan pengunjung diimbau tidak beraktivitas dalam radius tersebut. Pemerintah daerah diminta memperbarui rencana kontingensi dan meningkatkan sosialisasi mitigasi bencana. Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menekankan pentingnya desa tangguh bencana sebagai garda terdepan.
Profil Gunung Slamet
Gunung Slamet adalah stratovolcano tipe A dengan ketinggian 3.432 mdpl, membentang di lima kabupaten: Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Sejarah letusannya tercatat sejak abad ke-18, dengan letusan terakhir mengeluarkan lava pijar pada Mei-Juni 2009. Tipe letusannya Strombolian, menghasilkan lontaran material pijar tanpa awan panas.
Tips Pendakian Aman
Bagi pendaki, jalur populer dari Bambangan (Purbalingga) menawarkan tantangan dengan medan terjal dan kelangkaan air. Waktu terbaik mendaki adalah April-September. Pendaki wajib membawa air 4-5 liter, perlengkapan lengkap, dan selalu memantau informasi terkini aktivitas vulkanik sebelum mendaki.



