Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa tim petugas gabungan di empat kabupaten di Provinsi Jawa Tengah masih berjibaku memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari melaporkan insiden kebakaran terjadi di wilayah Kabupaten Klaten, Grobogan, Blora, dan Wonogiri.
Kebakaran di Klaten dan Grobogan
Berdasarkan laporan yang diterima Direktorat Pengendalian Operasi BNPB, kebakaran di Klaten terjadi pada Senin (27/7). "Kebakaran satu hektare area persawahan di Dukuh Srimulyo, Desa Kaligawe, Kecamatan Pedan itu diduga dipicu oleh aktivitas pembakaran sampah secara tidak terkendali oleh warga sebelum akhirnya berhasil diatasi secara manual oleh BPBD dan Damkar," kata Abdul Muhari dalam keterangannya, Selasa (28/7).
Sementara itu, di Kabupaten Grobogan, tim gabungan harus bekerja ekstra memadamkan kebakaran seluas 3,4 hektare di Desa Prigi, Kecamatan Kedungjati, dan Desa Kaliwenang, Kecamatan Tanggungharjo. Menurut Abdul, insiden yang bermula dari pembakaran serasah bekas panen jagung pada siang hari Senin (27/7) tersebut direspons cepat oleh BPBD Grobogan melalui pembuatan sekat bakar agar api tidak terus merambat.
Blora dan Wonogiri Ikut Terdampak
Selain Klaten dan Grobogan, dinamika karhutla di Jawa Tengah juga melibatkan penanganan intensif di lahan tebu Kabupaten Blora serta Wonogiri yang masing-masing membakar satu hektare lahan. Peristiwa kebakaran lahan di Blora bukanlah yang baru selama bulan Juli ini. BNPB mencatat pada Rabu (22/7) api kebakaran sempat menghanguskan lahan seluas tiga hektare di dua lokasi terpisah. Kebakaran pertama melanda kawasan lahan tebu di Desa Kalangan, Kecamatan Tunjungan, yang disusul kebakaran rumpun bambu di Desa Kebonrejo, Kecamatan Banjarejo, hingga akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya pada Kamis (23/7).
Di Wonogiri, kebakaran lahan juga terjadi secara terpisah, meskipun luasnya lebih kecil namun tetap memerlukan penanganan serius dari petugas gabungan. Abdul Muhari menegaskan bahwa rentetan peristiwa ini mempertegas perlunya kesiapsiagaan penuh dari pemerintah daerah, termasuk Jawa Tengah, untuk merespons cepat kerawanan dampak minimnya curah hujan selama musim kemarau. Hal ini memperbesar potensi munculnya titik api baru di berbagai wilayah.
Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau
BNPB mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama di kawasan yang memiliki lahan kering dan vegetasi mudah terbakar. "Pemerintah daerah harus memiliki kesiapsiagaan penuh untuk merespons cepat kerawanan dampak minimnya curah hujan selama musim kemarau ini," ujar Abdul Muhari. Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, baik untuk keperluan pertanian maupun pembuangan sampah.
Data BNPB menunjukkan bahwa selama Juli 2026, sejumlah titik api telah muncul di berbagai daerah di Jawa Tengah, dengan empat kabupaten tersebut menjadi yang paling parah. Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Damkar, TNI, Polri, dan relawan terus berupaya memadamkan api dan mencegah meluasnya kebakaran. Dengan kondisi cuaca yang masih kering, upaya patroli dan sosialisasi terus digencarkan untuk mengurangi risiko karhutla lebih lanjut.



