Banjir Babakan Madang Bogor Surut, Sisa Lumpur dan Trauma Warga Tersisa
Banjir Babakan Madang Bogor Surut, Sisa Lumpur dan Trauma

Banjir Babakan Madang Bogor Surut, Sisa Lumpur dan Trauma Warga Tersisa

Bogor - Meski air banjir yang menerjang Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, telah surut, dampaknya masih terasa jelas. Peristiwa yang terjadi pada Rabu (11/2/2026) sore itu menyisakan tumpukan lumpur tebal di jalanan dan rumah-rumah warga, serta meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat setempat.

Mobil Tersapu Arus Deras Seperti Speedboat

Banjir datang setelah hujan deras mengguyur kawasan Bogor, membawa material batu dan lumpur. Limpasan air yang deras di jalan raya menyebabkan satu unit mobil SUV hanyut tersapu arus, bergerak bak speedboat di sungai. Rekaman video amatir yang beredar menunjukkan mobil tersebut dengan lampu hazard menyala dan kaca belakang rusak, sementara seorang warga berkomentar, "Tuh mobil teu (tak) bisa balik, palid (hanyut)." Tidak ada korban jiwa dilaporkan dalam insiden ini, namun kerusakan material cukup signifikan.

Puluhan Rumah Terendam di Dua Desa

Banjir tidak hanya terjadi di Desa Bojongkoneng, tetapi juga melanda Desa Cijayanti. Menurut Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor, M Adam Hamdani, sebanyak 21 unit rumah di RT 01 RW 01 Desa Cijayanti terdampak banjir. Meski tidak ada kerusakan bangunan berat, air masuk ke dalam rumah dengan ketinggian mencapai 1,2 meter di beberapa lokasi, merusak barang-barang elektronik seperti kulkas, televisi, dan dispenser.

Penyebab Banjir dan Upaya Penanganan

Bupati Bogor Rudy Susmanto mengungkapkan bahwa banjir terjadi akibat air yang meluap dari saluran. "Cijayanti sendiri itu setiap hujan deras air meluap lalu masuk ke jalan," katanya. Pemerintah Kabupaten Bogor telah mengambil langkah awal dengan menggeser alat berat Dinas PUPR ke waduk dan berencana melakukan normalisasi sungai serta situ, meski kewenangan resmi berada di BBWS. Drainase yang tersumbat juga akan diperbaiki untuk meminimalisir banjir di masa depan, terutama mengingat potensi hujan intensitas tinggi masih mengancam.

Trauma dan Kekhawatiran Warga

Bagi warga seperti Rudi (53) dan Suryati, banjir telah meninggalkan ketakutan yang mendalam. Rudi bercerita bagaimana air naik dengan cepat sekitar pukul 17.00 WIB, merusak ubin dan peralatan rumah tangganya. "Waswas, jadi nggak tenang kalau hujan deras," ujarnya. Suryati, yang telah tinggal di sana selama 7 tahun, mengaku ketar-ketir setiap hujan deras datang, terus memantau ketinggian air. Meski banjir surut selepas Magrib, banyak warga masih tidur di lantai basah tanpa alas, memilih tetap tinggal di rumah mereka.

Pembersihan Lumpur dan Bantuan yang Datang

Setelah banjir surut, warga kini sibuk membersihkan sisa-sisa lumpur yang menumpuk di sekitar rumah mereka menggunakan peralatan sederhana. Bantuan dari berbagai instansi telah tiba, berupa paket makanan, air bersih, dan pemeriksaan kesehatan. Sejumlah rumah yang rusak belum sepenuhnya diperbaiki, namun kehidupan perlahan mulai kembali normal. Tidak ada korban luka-luka dalam peristiwa ini, tetapi ingatan akan banjir yang menyapu segalanya masih membayangi.

Kejadian ini mengingatkan akan pentingnya penanganan drainase dan sistem peringatan dini di daerah rawan banjir, agar trauma serupa tidak terulang lagi di Babakan Madang.