Bareskrim Ungkap Strategi Perang Lawan Kejahatan Siber, Beberkan Kasus Deepfake Prabowo
Bareskrim Ungkap Strategi Perangi Kejahatan Siber dan Deepfake

Bareskrim Paparkan Strategi Komprehensif Perangi Kejahatan Siber di Era AI

Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri secara terbuka mengungkap berbagai strategi dan metode mutakhir dalam menangani kejahatan siber yang semakin canggih di era penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Paparan ini disampaikan dalam dialog publik bertajuk 'Tantangan Hukum di Era Artificial Intelligence' yang diselenggarakan oleh Divisi Humas Polri.

Empat Pilar Investigasi: Follow the People hingga Technology

Kombes Pol Andrian Pramudianto, selaku Kasubdit II Dittipidsiber Bareskrim Polri, menjelaskan bahwa pendekatan investigasi mereka berdasar pada empat pilar utama. "Strategi kami dalam penanganan tindak pidana siber pertama adalah follow the people, yaitu menelusuri pelakunya dengan metode tertentu," ujar Andrian di Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (7/4/2026).

Pilar kedua adalah follow the machine, yang berfokus pada sarana dan prasarana yang digunakan pelaku. Andrian menekankan bahwa Bareskrim memiliki laboratorium forensik digital di Subdit 3 Dittipidsiber yang merupakan satu-satunya lab di Indonesia yang diakui secara resmi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Pilar ketiga adalah follow the material. Para pelaku kejahatan siber ini sangat cepat bergerak. Dana yang ditransfer hari ini, dalam hitungan satu hingga dua menit sudah bisa berubah menjadi aset kripto," tambahnya, menyoroti kecepatan transaksi finansial dalam kejahatan dunia maya.

Pilar terakhir adalah follow the technology, di mana penyidik Dittipidsiber secara aktif mengikuti perkembangan teknologi terbaru. "Kami semua terus berkembang mengikuti perkembangan teknologi yang ada, bahkan kami menjalin kerja sama dengan lembaga internasional seperti FBI (Federal Bureau of Investigation) Amerika Serikat dan AFP (Australian Federal Police)," jelas Andrian.

Kolaborasi Internasional dan Pengungkapan Kasus Deepfake Bermuatan Politik

Kerja sama dengan badan investigasi asing seperti FBI, yang merupakan bagian dari Departemen Kehakiman Amerika Serikat, menjadi bagian penting dari strategi Bareskrim dalam memerangi kejahatan siber yang bersifat lintas batas negara. Kolaborasi ini memungkinkan pertukaran informasi dan teknik investigasi yang lebih efektif.

Andrian kemudian mengungkit salah satu kasus nyata yang berhasil diungkap menggunakan metode tersebut, yaitu kasus manipulasi video dan audio menggunakan teknologi deepfake yang mencatut nama Presiden Prabowo Subianto dan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani pada Januari 2025.

"Kami berhasil mengungkap adanya deepfake yang mengatasnamakan pejabat negara, dalam hal ini Bu Sri Mulyani. Konten tersebut menawarkan bantuan pemerintah dengan mencatut nama Bu Sri Mulyani dan Presiden kita Bapak Prabowo Subianto untuk menjaring korban," papar Andrian.

Ia menyatakan bahwa berkat strategi investigasi yang komprehensif, pelaku dapat ditangkap dalam waktu relatif singkat dan perkara tersebut telah diputus oleh pengadilan.

Teknik Identifikasi Konten Deepfake: Dari Anomali Wajah hingga Indikator Audio

Dalam paparannya, Andrian juga merinci bagaimana timnya mengidentifikasi konten deepfake yang semakin sulit dibedakan dari konten asli. Beberapa indikator kunci yang digunakan meliputi:

  • Anomali pada wajah dan ekspresi: Ketidakwajaran dalam gerakan wajah atau ekspresi yang tidak natural.
  • Cahaya dan bayangan: Inkonsistensi dalam pencahayaan dan bayangan pada video.
  • Distorsi anatomi benda mati: Kelainan pada objek non-hidup yang muncul dalam frame.
  • Indikator audio: Kualitas suara yang tidak sesuai atau adanya noise digital tertentu.

"Untuk mengenali konten deepfake, kami menggunakan berbagai alat pendeteksi AI yang dapat menganalisis indikator-indikator tersebut," jelas Andrian, menegaskan bahwa teknologi tidak hanya digunakan oleh pelaku kejahatan, tetapi juga oleh penegak hukum untuk melawannya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Dengan terus mengembangkan kapasitas sumber daya manusia dan teknologi, serta memperkuat jejaring kolaborasi nasional dan internasional, Bareskrim berkomitmen untuk tetap berada di garis depan dalam memerangi kejahatan siber yang terus berevolusi di era digital ini.