Tidur sering dianggap hanya sebagai kebutuhan biologis, namun sesungguhnya ia merupakan wujud kebebasan manusia yang paling mendasar. Dalam pandangan eksistensialis, kemampuan untuk menentukan kapan dan bagaimana beristirahat adalah ekspresi otentik dari eksistensi seseorang. Ketika seseorang dapat menunaikan tidur sesuai kehendaknya, ia telah memenuhi kewajiban terhadap diri dan tubuhnya.
Gen-Z dan Pola Tidur yang Mengkhawatirkan
Namun, kekhawatiran muncul ketika menyoroti kebiasaan tidur Generasi Z (Gen-Z). Berdasarkan survei terbaru, lebih dari 60% anggota Gen-Z mengalami gangguan tidur akibat penggunaan gawai berlebihan. Menurut dr. Andi Pratama, spesialis tidur, "Gen-Z cenderung menunda tidur karena terpaku pada layar, sehingga siklus sirkadian mereka terganggu." Hal ini mengindikasikan bahwa kebebasan esensial untuk tidur justru terancam oleh teknologi.
Dampak pada Kesehatan dan Produktivitas
Kurang tidur tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga mental dan produktivitas. Studi menunjukkan bahwa 45% mahasiswa Gen-Z melaporkan penurunan konsentrasi akibat kurang tidur. Padahal, tidur yang cukup adalah fondasi untuk fungsi kognitif optimal. Jika pola ini terus berlanjut, generasi muda berisiko kehilangan salah satu kebebasan paling dasar: hak untuk beristirahat dengan layak.
Solusi untuk Mengembalikan Kebebasan Tidur
Para ahli menyarankan pendekatan holistik, termasuk membatasi paparan layar sebelum tidur dan menciptakan rutinitas tidur yang konsisten. Pemerintah dan institusi pendidikan juga perlu mengedukasi pentingnya tidur sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Seperti dikatakan filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre, "Kebebasan adalah apa yang kita lakukan dengan apa yang dilakukan pada kita." Gen-Z perlu mengambil kendali atas tidur mereka untuk mempertahankan eksistensi sejati.



