Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) kembali menunjukkan peningkatan signifikan. Pemerintah setempat melaporkan jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 3.200, dengan 1.405 orang meninggal dunia. Data terbaru ini dirilis pada Minggu (26/7/2026) dan dikutip dari Reuters, Senin (27/7/2026).
Penyebaran Cepat dalam Sepuluh Hari
Dalam kurun waktu sekitar 10 hari, jumlah kasus bertambah hampir 1.000 infeksi baru, menandakan penyebaran wabah masih berlangsung sangat cepat. Lonjakan ini menjadi perhatian serius bagi otoritas kesehatan di DRC dan organisasi internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Wabah Ke-17 dan Strain Bundibugyo
Wabah Ebola ke-17 di DRC ini pertama kali diumumkan pada 15 Mei 2026. Penyebabnya adalah strain Bundibugyo, salah satu jenis virus Ebola yang belum memiliki vaksin maupun pengobatan yang telah disetujui. Strain ini sebelumnya pernah muncul di Uganda pada tahun 2007 dan 2012, namun kali ini penyebarannya lebih luas dan agresif.
Dampak dan Respons
Pemerintah DRC bersama WHO dan mitra lainnya telah meningkatkan upaya penanganan, termasuk pelacakan kontak, isolasi kasus, dan sosialisasi kepada masyarakat. Namun, tantangan besar masih ada, seperti infrastruktur kesehatan yang lemah, mobilitas penduduk, serta kurangnya vaksin spesifik untuk strain Bundibugyo. Para ahli memperkirakan angka kematian dapat terus bertambah jika respons tidak segera diperkuat.
Ancaman Regional
Negara-negara tetangga seperti Rwanda, Uganda, dan Burundi telah meningkatkan kewaspadaan di perbatasan. WHO memperingatkan risiko penyebaran lintas batas, meskipun belum ada kasus yang dilaporkan di luar DRC. Upaya koordinasi regional menjadi kunci untuk mencegah meluasnya wabah ini.
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan DRC menunjukkan bahwa kasus terbanyak terkonsentrasi di provinsi-provinsi timur, termasuk Kivu Utara dan Ituri. Daerah ini merupakan zona konflik yang sering mengalami pergerakan penduduk dan akses terbatas bagi petugas kesehatan. Banyak rumah sakit kewalahan menangani lonjakan pasien, sementara stok alat pelindung diri (APD) dan perlengkapan medis mulai menipis.
Tim respons cepat dari WHO telah dikerahkan ke daerah terdampak untuk membantu pelacakan kontak dan edukasi masyarakat. Namun, tantangan keamanan sering menghambat pergerakan tim medis. Milisi bersenjata masih aktif di beberapa wilayah, sehingga operasi penanganan harus dilakukan dengan pengawalan ketat.
Selain itu, praktik penguburan tradisional yang melibatkan kontak langsung dengan jenazah turut mempercepat penularan. Tim pemakaman yang aman telah dilatih untuk menangani jenazah sesuai protokol Ebola, namun masih banyak masyarakat yang menolak prosedur tersebut karena alasan budaya.
Wabah ini menjadi pengingat akan kerentanan sistem kesehatan global terhadap penyakit menular yang belum ada obatnya. Strain Bundibugyo memiliki tingkat kefatalan yang tinggi, dan tanpa vaksin, upaya pencegahan hanya bergantung pada deteksi dini dan isolasi.



