Kementerian Pariwisata terus mendorong pengembangan layanan pariwisata yang ramah bagi kelompok lanjut usia (lansia), atau yang dikenal sebagai geronto-tourism. Langkah ini diambil seiring dengan meningkatnya potensi pasar wisata lansia di dalam dan luar negeri.
Peluang Besar Wisata Lansia di Pasar Global
Juru Bicara Kementerian Pariwisata, Nia Niscaya, menyatakan bahwa banyak negara kini memiliki populasi yang menua, seperti Jepang dan Belanda. Hal ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan produk wisata lansia yang berdaya saing global.
“Mengingat saat ini banyak negara yang memiliki populasi memasuki penuaan, seperti Jepang dan Belanda, pemerintah mendorong para stakeholder pariwisata untuk mengembangkan produk wisata lansia atau geronto-tourism yang memiliki daya saing global,” kata Nia Niscaya dalam keterangan yang dikutip dari Antara pada Minggu (26/7/2026).
Manfaat Berwisata bagi Lansia
Berwisata tidak lagi hanya milik kalangan muda. Bagi para senior, kegiatan wisata menjadi sarana penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental di masa tua. Studi menunjukkan bahwa perjalanan dapat mengurangi stres, meningkatkan aktivitas fisik, dan memperkuat interaksi sosial, yang semuanya berkontribusi pada kualitas hidup lansia.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah penduduk lansia di Indonesia terus meningkat. Pada 2025, proporsi penduduk usia 60 tahun ke atas mencapai sekitar 12% dari total populasi, atau sekitar 33 juta jiwa. Angka ini diperkirakan akan terus naik seiring dengan peningkatan usia harapan hidup.
Dukungan Pemerintah dan Kolaborasi Stakeholder
Kementerian Pariwisata memandang perlunya kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, pelaku industri pariwisata, dan akademisi untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang ramah lansia. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan meliputi aksesibilitas fisik, layanan kesehatan, akomodasi khusus, serta panduan wisata yang sesuai dengan kebutuhan lansia.
“Tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga sumber daya manusia yang terlatih untuk melayani wisatawan lansia. Kami mendorong pelatihan bagi pemandu wisata dan staf hotel agar lebih memahami kebutuhan khusus para senior,” tambah Nia.
Potensi Ekonomi dan Daya Saing
Segmen wisata lansia dinilai memiliki daya beli yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Mereka cenderung melakukan perjalanan dengan durasi lebih lama dan memilih layanan premium. Ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan devisa pariwisata sekaligus memperkuat posisi sebagai destinasi ramah lansia di Asia.
Beberapa destinasi yang mulai mengembangkan produk geronto-tourism antara lain Bali, Yogyakarta, dan Bandung. Di sana, sudah tersedia paket wisata kesehatan, wisata budaya santai, serta akomodasi dengan fasilitas khusus seperti pegangan tangan di kamar mandi, kursi roda, dan menu makanan khusus.
Langkah ke Depan
Ke depan, Kementerian Pariwisata berencana menyusun panduan standar pelayanan pariwisata ramah lansia yang dapat diadopsi oleh seluruh pelaku industri. Selain itu, promosi geronto-tourism akan digencarkan di pameran-pameran internasional untuk menarik wisatawan mancanegara dari negara-negara dengan populasi tua.
Dengan sinergi yang kuat, diharapkan Indonesia mampu menjadi salah satu destinasi utama wisata lansia dunia, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para senior melalui pengalaman berwisata yang bermakna.



