PT MRT Jakarta tengah membangun Pedestrian Deck Dukuh Atas, sebuah infrastruktur berbentuk cincin yang dirancang untuk memangkas waktu tempuh pejalan kaki dan pengguna transportasi umum di kawasan transit terpadu (Transit Oriented Development/TOD) Dukuh Atas. Proyek ini bertujuan membuat perpindahan antarmoda menjadi lebih cepat dan nyaman, sejalan dengan upaya meningkatkan penggunaan transportasi publik di Jakarta.
Pengurangan Waktu Tempuh yang Signifikan
Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta, Agus Trihan, dalam rangkaian MRTJ Fellowship Program 2026 di Jakarta pada Kamis (30/7/2026), menjelaskan bahwa hasil kajian bersama konsultan menunjukkan keberadaan pedestrian deck akan mengurangi durasi perjalanan masyarakat di kawasan Dukuh Atas. "Dari kajian konsultan kami bahwa dengan dibangunnya deck ini akan ada pengurangan durasi waktu perjalanan lah untuk pengguna transportasi publik ataupun pejalan kaki dari area-area kawasan-kawasan ini yang akan membuat perjalanan lebih nyaman," ujar Agus.
Kajian tersebut mengungkapkan bahwa sebagian besar perpindahan antarmoda berpotensi memangkas waktu tempuh sekitar dua hingga tiga menit. Namun, penghematan waktu yang paling signifikan diperkirakan terjadi pada rute dari kawasan Gedung Landmark menuju Shangri-La. Saat ini, pejalan kaki harus turun ke bawah, memutar, dan kembali naik untuk mencapai tujuan. "Dengan adanya dek ini, kami memperkirakan bisa menghemat waktu tempuh sekitar empat hingga lima menit karena jalurnya menjadi jauh lebih praktis dan langsung," kata Agus.
Mengatasi Fragmentasi Kawasan Dukuh Atas
Pembangunan pedestrian deck berangkat dari kondisi kawasan Dukuh Atas yang masih terfragmentasi menjadi empat kuadran. Meskipun telah menjadi simpul berbagai moda transportasi publik seperti MRT, KRL Commuter Line, Transjakarta, LRT Jabodebek, dan LRT Jakarta, konektivitas antarkawasan bagi pejalan kaki masih belum optimal. Agus mencontohkan, pejalan kaki yang berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain masih harus turun ke permukaan jalan dan memutar cukup jauh, sehingga perjalanan menjadi tidak efisien.
Pedestrian deck dirancang untuk menghubungkan keempat kawasan tersebut sekaligus mempermudah perpindahan antarmoda. "Deck ini adalah sebuah katalis. Justru ini mendorong seluruh transportasi publik di sekitar sini untuk ayo kembangin, connect-in ke sini biar semuanya makin lebih seamless, dengan menjawab pertama adalah isu fragmentasi kawasan," ujar Agus. Dengan desain melingkar, dek ini akan menjadi penghubung utama yang mengintegrasikan berbagai moda transportasi.
Spesifikasi dan Target Penyelesaian
Fasilitas bagi pejalan kaki ini dirancang melingkar dengan diameter sekitar 118 meter dan lebar kurang lebih 12 meter. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan Pedestrian Deck Dukuh Atas rampung pada 2028. Infrastruktur ini juga dirancang ramah disabilitas, dengan aspek aksesibilitas menjadi perhatian utama dalam perancangannya.
Dampak pada Kenyamanan dan Minat Transportasi Publik
Agus menekankan bahwa pengurangan waktu tempuh diharapkan membuat perjalanan pejalan kaki dan pengguna transportasi umum menjadi lebih nyaman, terutama saat berpindah moda transportasi. "Apalagi nanti kalau misalnya concern kita kan kayak panas, hujan gitu. Dengan adanya infrastruktur ini akan membuat perjalanan jadi lebih nyaman dan lebih menarik buat orang. Kalau enggak, orang ya mungkin akan tetap, 'eh bawa mobil aja deh'," kata dia. Dengan demikian, pedestrian deck diharapkan mendorong lebih banyak orang beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.



