Masjid Bersejarah Muncul Kembali di Tengah Bendungan
Bangunan masjid di tengah Bendungan Karian, Lebak, Banten, berdiri utuh meski tergenang air waduk. Masjid berkubah biru dan bermenara itu tetap tegak di antara bangunan lain yang sudah tak utuh lagi. Fenomena ini terjadi saat kemarau panjang menyebabkan volume air waduk menyusut.
Wasiat Leluhur: Masjid Tidak Boleh Dibongkar
Menurut warga setempat, Maman, Masjid Al Mujahidin yang kembali muncul ke permukaan imbas kemarau tersebut memang diwasiatkan untuk tidak dibongkar. Maman, yang dulu tinggal tepat di samping masjid di Kampung Somang, menceritakan bahwa bangunan itu merupakan masjid bersejarah. "Yang mendirikan Abuya, katanya dibangun sejak zaman Belanda. Tapi baru direnovasi sekitar 15 tahun lalu," kata Maman kepada detikcom, Rabu (29/7/2026).
Maman menyebut cucu atau keturunan Abuya berpesan agar masjid itu tidak dibongkar apa pun yang terjadi. "Dibuatkan masjid baru, jadi yang dipindah itu cuma lima tiang utama di bagian dalam," ujar Maman. Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai sejarah dan spiritual yang melekat pada bangunan tersebut.
Kampung Tenggelam Muncul Kembali Akibat Kemarau
Sebelumnya, kampung di Bendungan Karian kini kembali muncul ke permukaan seiring menyusutnya air waduk karena kemarau. Meski sudah tidak beratap, tembok-tembok rumah di kampung tersebut terlihat jelas. Sisa-sisa permukiman padat penduduk yang dulu terendam air itu pun kembali tampak. Lokasi tersebut berada di ujung genangan Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, sekitar 16 kilometer dari as Bendungan.
Penjelasan BBWS: Tidak Dilakukan Demolish Bangunan
Kepala BBWS Cidanau Ciujung Cidurian (C3), Dedi Yudha Lesmana, menjelaskan bahwa bangunan-bangunan di sana memang sengaja tidak dihancurkan saat pengisian air dimulai. "Kondisi seluruh area genangan, meski sudah dibebaskan, tidak dilakukan demolish untuk bangunan yang terdampak. Adapun yang dilakukan proses clearing oleh tim konstruksi hanya tanamannya saja," terangnya.
Dedi menambahkan bahwa saat ini air di waduk menyusut sekitar 5 persen dari volume normal. Penyusutan itulah yang membuat deretan rumah yang telah ditinggalkan warga kembali terlihat jelas. "Pada muka air banjir (MAB) waduk, sebagian rumah memang akan tenggelam karena beda tingginya dengan muka air normal sekitar 3,35 meter. Saat ini elevasinya turun sekitar 80 cm dari muka air normal," pungkasnya.
Dampak dan Harapan Warga
Fenomena ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sekitar dan pengunjung. Banyak yang datang untuk melihat langsung masjid yang kokoh berdiri di tengah air. Maman berharap masjid tersebut tetap dirawat meski dalam kondisi tergenang. "Ini bukti sejarah yang harus dijaga," katanya. Pemerintah setempat juga diharapkan dapat memberikan perhatian khusus terhadap situs bersejarah ini.



