Longsor Morowali Utara Isolasi 2.104 Jiwa di Dua Desa
Longsor Morowali Utara Isolasi 2.104 Jiwa

Longsor Putus Akses Jalan Dua Desa di Morowali Utara

Bencana longsor yang terjadi di Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, pada Jumat (24/7) dini hari menyebabkan akses jalan menuju Desa Lemowalia dan Desa Salubiro terputus total. Akibatnya, sebanyak 2.104 jiwa terisolir dari dunia luar. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah, Asbudianto, mengonfirmasi bahwa longsor terjadi sekitar pukul 02.00 WITA setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut.

“Iya bencana longsor tersebut memutuskan akses jalan di Desa Lemowalia dan Desa Salubiro,” kata Asbudianto dalam keterangan resmi yang diterima, Senin (27/7).

Penyebab Longsor: Sungai Meluap dan Tebing Runtuh

Menurut data BPBD, longsor dipicu oleh meluapnya Sungai Swuya yang mengikis tebing di kawasan Salan Samoing Sunga. Tebing setinggi sekitar 3 meter kehilangan penopang akibat derasnya aliran air, sehingga longsor dan menutup seluruh badan jalan. “Tebing dengan ketinggian sekitar 3 meter kehilangan penopang hingga akhirnya runtuh dan menutup badan jalan,” ungkap Asbudianto.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Material longsor berupa tanah dan bebatuan menutup akses jalan satu-satunya yang menghubungkan dua desa tersebut dengan pusat kecamatan. Hingga saat ini, jalan belum dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Dampak: 2.104 Jiwa Terisolasi, Belum Ada Pengungsi

Berdasarkan pendataan BPBD, dampak longsor meliputi 500 kepala keluarga (KK) atau 1.700 jiwa di Desa Salubiro, serta 127 KK atau 404 jiwa di Desa Lemowalia. Total warga terdampak mencapai 2.104 jiwa. Meskipun akses terputus, Asbudianto menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa maupun warga yang mengungsi akibat bencana ini. “Hingga laporan diterima tidak terdapat korban jiwa maupun warga yang mengungsi,” katanya.

Upaya Penanganan dan Koordinasi

Tim BPBD Sulawesi Tengah bersama pemerintah setempat telah melakukan koordinasi untuk percepatan penanganan. Asbudianto menjelaskan, saat ini prioritas utama adalah membuka akses jalan yang tertutup longsor. Namun, kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan deras menghambat proses evakuasi material. “Berdasarkan hasil asesmen hingga saat ini kedua desa masih terisolasi, karena akses jalan belum dapat dilalui kendaraan,” jelasnya.

BPBD juga telah mengerahkan alat berat ke lokasi, namun akses yang sulit membuat pergerakan alat terbatas. Pemerintah kabupaten dan provinsi terus berkoordinasi untuk menyediakan logistik bagi warga yang terisolasi melalui jalur alternatif, meskipun sangat terbatas.

Imbauan Kewaspadaan Terhadap Longsor Susulan

Asbudianto mengimbau masyarakat di sekitar lokasi longsor untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat potensi longsor susulan masih tinggi. “Mengingat cuaca di kawasan tersebut masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas tinggi,” pungkasnya. Warga diminta untuk menjauhi daerah tebing dan bantaran sungai yang rawan longsor, serta segera melapor jika menemukan tanda-tanda pergerakan tanah.

Bencana longsor di Morowali Utara ini menjadi pengingat akan kerentanan wilayah perbukitan di Sulawesi Tengah terhadap cuaca ekstrem. Data BPBD mencatat bahwa kawasan ini sering mengalami longsor saat musim hujan, dan pemerintah daerah terus berupaya melakukan mitigasi bencana jangka panjang, termasuk penanaman pohon di lereng dan pembangunan infrastruktur pengendali erosi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga