Pertamina Turunkan Harga BBM Non-subsidi per 1 Agustus
Pertamina Turunkan Harga BBM Non-subsidi per 1 Agustus

PT Pertamina Patra Niaga resmi memberlakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi pada 1 Agustus 2026. Dalam pengumuman resmi yang dipublikasikan melalui kanal perusahaan, harga tiga produk non-subsidi diturunkan, yaitu Pertamax, Pertamax Green 95, dan Pertamax Turbo. Sementara itu, dua BBM non-subsidi lainnya, Dexlite dan Pertamina Dex, tetap bertahan di harga yang sama. Adapun BBM bersubsidi, Pertalite dan Biosolar, juga tidak mengalami perubahan.

Keputusan ini diumumkan pada akhir Juli 2026 dan langsung berlaku di seluruh SPBU Pertamina mulai tanggal 1 Agustus 2026. Penyesuaian harga ini merupakan bagian dari evaluasi bulanan yang dilakukan Pertamina Patra Niaga dengan mempertimbangkan berbagai indikator pasar, seperti harga minyak mentah Indonesia (ICP), nilai tukar rupiah, serta biaya distribusi.

Tiga BBM Non-subsidi Mengalami Penurunan Harga

Penurunan harga kali ini menyasar tiga produk unggulan Pertamina yang memang diperuntukkan bagi segmen konsumen dengan kebutuhan performa dan kualitas tinggi. Berikut rincian produk yang harganya turun:

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram
  • Pertamax – Bensin dengan RON 92 yang menjadi pilihan utama bagi pengguna kendaraan bensin modern.
  • Pertamax Green 95 – Varian bensin RON 95 yang mengandung etanol dan diposisikan sebagai BBM lebih ramah lingkungan.
  • Pertamax Turbo – Bensin dengan RON 98 yang dirancang khusus untuk kendaraan berperforma tinggi.

Meski besaran penurunan tidak dirinci secara resmi, harga terbaru dapat dilihat di papan harga SPBU maupun aplikasi MyPertamina. Penurunan ini tentu memberikan sedikit keringanan bagi konsumen yang selama ini menggunakan produk-produk tersebut dalam aktivitas hariannya.

Dexlite dan Pertamina Dex Tetap Stabil

Untuk segmen bahan bakar diesel, Pertamina memutuskan untuk tidak mengubah harga Dexlite dan Pertamina Dex. Dexlite merupakan BBM diesel dengan cetane number 51, sedangkan Pertamina Dex memiliki cetane number 53 yang lebih tinggi. Kedua produk ini banyak digunakan pada kendaraan diesel modern serta alat berat industri.

Keputusan untuk mempertahankan harga kedua produk tersebut menjadi sinyal stabilitas bagi para pelaku usaha yang mengandalkan solar non-subsidi. Dengan harga yang tidak bergerak, perencanaan anggaran operasional perusahaan logistik, pertanian, dan manufaktur dapat berjalan lebih pasti.

BBM Bersubsidi: Pertalite dan Biosolar Tidak Berubah

Pertamina juga menegaskan bahwa harga Pertalite dan Biosolar tetap pada posisi semula. Pertalite adalah bensin RON 90 yang disubsidi pemerintah, sementara Biosolar merupakan BBM diesel bersubsidi. Harga kedua jenis BBM ini diatur langsung oleh pemerintah melalui mekanisme APBN untuk menjaga keterjangkauan daya beli masyarakat.

Fluktuasi harga minyak dunia tidak serta-merta mengubah harga Pertalite maupun Biosolar karena pemerintah menanggung selisihnya melalui subsidi. Dengan demikian, masyarakat kecil dan sektor transportasi umum yang bergantung pada BBM bersubsidi tidak akan merasakan dampak gejolak harga energi global.

Mekanisme Penyesuaian Harga BBM Non-subsidi

Harga BBM non-subsidi memang dirancang mengikuti mekanisme pasar. Pertamina Patra Niaga setiap awal bulan mengevaluasi harga jual dengan menggunakan parameter resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Parameter tersebut mencakup perkembangan ICP, kurs dolar Amerika Serikat, dan biaya operasional distribusi.

Jika rata-rata harga minyak pada periode berjalan lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, maka harga BBM non-subsidi cenderung turun. Sebaliknya, apabila terjadi kenaikan, harga akan disesuaikan naik. Mekanisme seperti ini dinilai lebih adil karena konsumen membayar sesuai kondisi pasar yang transparan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pertamina Patra Niaga juga meningkatkan transparansi harga dengan mengumumkan penyesuaian secara rutin melalui kanal digital. Masyarakat dapat mengakses daftar harga terbaru melalui situs resmi maupun aplikasi MyPertamina. Seluruh SPBU Pertamina pun diwajibkan memperbarui papan harga pada tanggal yang sama. Jika terjadi keterlambatan, konsumen dapat melaporkan ke layanan pengaduan resmi Perusahaan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Dampak Ekonomi dan Sosial

Perubahan harga BBM selalu menjadi perhatian publik karena bersentuhan langsung dengan mobilitas masyarakat. Turunnya harga Pertamax, Pertamax Green 95, dan Pertamax Turbo dapat mendorong konsumsi BBM non-subsidi, sekaligus meredam sedikit tekanan pengeluaran rumah tangga. Namun, porsi BBM non-subsidi dalam konsumsi nasional masih lebih kecil dibandingkan BBM bersubsidi, sehingga dampaknya terhadap inflasi diperkirakan tidak signifikan.

Stabilitas harga Dexlite dan Pertamina Dex juga memberikan kepastian bagi sektor industri yang mengandalkan bahan bakar diesel. Hal ini penting untuk menjaga harga pokok produksi dan menekan biaya distribusi barang. Di sisi lain, tidak berubahnya harga Pertalite dan Biosolar berfungsi sebagai penyangga utama daya beli masyarakat menengah ke bawah.

Dari sisi kebijakan, kombinasi antara harga fleksibel untuk produk non-subsidi dan harga tetap untuk produk bersubsidi merupakan langkah penyeimbang yang diambil pemerintah. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan fiskal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Pertamina Patra Niaga mengimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi resmi dan menggunakan BBM sesuai dengan spesifikasi kendaraan masing-masing agar efisiensi dan performa tetap optimal.