Havana – Kuba tenggelam dalam kegelapan total setelah jaringan listrik nasionalnya lumpuh pada Minggu (2/8/2026) malam waktu setempat. Negara berpenduduk sekitar 10 juta jiwa itu kembali dilanda krisis pasokan listrik yang semakin sering terjadi, dengan ibu kota Havana ikut diselimuti kegelapan tanpa penerangan jalan yang memadai.
Menurut laporan Reuters, Senin (3/8/2026), pemadaman listrik kali ini terjadi menyusul tiga insiden pemadaman listrik nasional sepanjang bulan Juli lalu. Kombinasi infrastruktur energi yang menua, kekurangan bahan bakar, dan permintaan listrik yang tinggi membuat sistem kelistrikan Kuba makin rapuh.
Operator jaringan listrik milik negara, Union Electrica de Cuba, tidak memberikan informasi detail mengenai situasi tersebut dalam unggahan resminya di akun media sosial X dan Facebook. Publik pun tidak mendapat kepastian kapan listrik akan kembali pulih secara bertahap.
Blokade Minyak Amerika Serikat Memperparah Pasokan
Tekanan terhadap sistem jaringan listrik Kuba semakin meningkat seiring kesulitan pemerintah Kuba dalam mengamankan pasokan bahan bakar impor. Sebagian besar pembangkit listrik di negara itu bergantung pada minyak impor, tetapi aliran minyak yang selama ini masuk justru menyusut drastis akibat blokade minyak yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Negara itu kehilangan sumber bahan bakar utama akibat blokade yang diterapkan Washington beberapa waktu terakhir. Blokade semacam itu dilakukan terhadap Havana menyusul langkah Amerika Serikat pada 3 Januari lalu untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro melalui operasi militer yang menggemparkan dunia. Venezuela telah sejak lama menjadi pemasok minyak utama bagi Kuba, sementara impor minyak dari Meksiko juga terhenti di tengah tekanan yang semakin meningkat dari AS.
Berkurangnya pasokan dari dua sumber utama itu membuat pembangkit listrik Kuba kekurangan bahan bakar. Padahal, negara dengan populasi lebih dari 10 juta jiwa ini membutuhkan pasokan energi yang stabil untuk menjalankan rumah sakit, sistem air bersih, dan aktivitas ekonomi sehari-hari.
Tiga Pemadaman Nasional Sepanjang Juli
Sepanjang Juli lalu, Kuba telah mencatat setidaknya tiga insiden pemadaman listrik berskala nasional. Meskipun tidak semuanya berlangsung selama berhari-hari, insiden-insiden tersebut menunjukkan bahwa kerentanan sistem kelistrikan Kuba bukan lagi hal yang luar biasa.
Pemadaman pada Minggu (2/8) malam mempertegas bahwa krisis energi di Kuba belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Ketika jaringan listrik lumpuh, hampir seluruh wilayah Kuba ikut terkena dampak, termasuk ibu kota Havana yang menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi negara.
Dengan populasi sekitar 10 juta jiwa, setiap pemadaman nasional berdampak pada hampir seluruh penduduk Kuba. Kegelapan yang menyelimuti Havana pada Minggu malam menjadi gambaran nyata betapa parahnya krisis energi yang sedang berlangsung.
Pemerintah Kuba Buka Sektor Energi untuk Investasi Asing
Di tengah krisis yang berlarut-larut, pemerintah Kuba mulai membuka sektor energi yang selama ini dikontrol secara ketat dan hati-hati. Kelangkaan bahan bakar dan rentetan sanksi berat dari Amerika Serikat mendorong otoritas untuk mencari solusi darurat.
Baru-baru ini, pemerintah Kuba memberikan izin bagi usaha impor bahan bakar yang untuk pertama kalinya didukung pihak asing. Pemerintah juga mengizinkan hampir 200 perusahaan Kuba untuk berpartisipasi dalam distribusi bahan bakar secara grosir. Langkah ini merupakan perubahan signifikan dalam kebijakan energi Kuba yang sebelumnya sangat membatasi peran swasta dan asing.
Langkah ini dimaksudkan untuk memperlancar distribusi bahan bakar ke seluruh negeri, terutama bagi pembangkit listrik dan layanan publik. Pembukaan sektor energi ini menjadi salah satu respons paling nyata pemerintah Kuba terhadap krisis yang sedang berlangsung.
Kendati begitu, kebijakan tersebut belum tentu cukup untuk menutup kebutuhan energi dalam negeri secara cepat. Kuba tetap menghadapi tantangan besar dalam mendapatkan minyak mentah dalam jumlah cukup untuk menghidupkan kembali jaringan listrik yang sempat lumpuh total.
Belum Ada Kepastian Pemulihan
Hingga berita ini diturunkan, Union Electrica de Cuba belum memberikan pernyataan resmi mengenai estimasi waktu pemulihan listrik. Ketidakjelasan ini memperpanjang kekhawatiran warga yang harus menjalani malam dalam kegelapan tanpa kepastian.
Krisis listrik yang melanda Kuba kali ini menjadi salah satu ujian terbesar bagi negara tersebut dalam menghadapi dampak blokade, keusangan infrastruktur, dan keterbatasan sumber daya energi. Seluruh mata kini tertuju pada langkah pemerintah Kuba serta respons Amerika Serikat terhadap upaya pemulihan yang dilakukan.



