Underpass Mampang Prapatan Kembali Normal Setelah Terendam Banjir 50 Sentimeter
Underpass Mampang Prapatan Normal Usai Banjir 50 Cm

Underpass Mampang Prapatan Kembali Normal Setelah Terendam Banjir 50 Sentimeter

Underpass Mampang Prapatan di Jakarta Selatan akhirnya kembali berfungsi normal setelah sempat terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 50 sentimeter. Genangan air yang muncul akibat hujan lebat pada Minggu (8/3/2026) pagi itu berhasil disedot oleh petugas pemadam kebakaran, mengakhiri kelumpuhan arus lalu lintas dari dua arah.

Operasi Penyedotan oleh Petugas Damkar

Kasudin Gulkarmat Jakarta Selatan, Asril Rizal, menjelaskan bahwa laporan banjir diterima petugas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) pada pukul 10.42 WIB dari Babinsa setempat. Tim damkar segera meluncur ke lokasi dengan pengerahan awal tiga unit dan delapan personel.

"Petugas tiba di lokasi pukul 10.58 WIB dan langsung menurunkan pompa. Penyedotan air dimulai sekitar pukul 11.00 WIB," ujar Asril. Delapan personel damkar dikerahkan untuk menangani genangan, dengan mesin pompa yang terus dimanfaatkan hingga air perlahan surut.

Operasi penyedotan berlangsung selama sekitar dua setengah jam, dan sekitar pukul 13.30 WIB, genangan akhirnya berhasil diatasi. Asril menegaskan, "Penyedotan telah selesai dengan aman terkendali, underpass Mampang Prapatan bisa dilalui kendaraan roda 4 dan roda 2 kembali."

Banjir Juga Melanda Permukiman di Benhil

Sementara itu, banjir juga merendam permukiman warga di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat, sejak Minggu dini hari. Air masuk ke rumah-rumah warga dengan ketinggian yang bervariasi, dan warga menyebut banjir kali ini sebagai yang paling parah sejak pandemi Covid-19.

Tuti (37), salah satu warga di RT 13/RW 6, Jalan Karet Pasar Baru Barat, Benhil, mengungkapkan, "Dari semalam. Setengah tiga itu di depan rumah sudah tinggal sedikit lagi dari pintu." Air yang terus naik akhirnya merendam seluruh bagian lantai bawah rumahnya, meski keluarganya masih bisa bertahan di lantai atas.

"Karena saya punya lantai atas, jadi tadi pagi sahurnya di atas," ucap Tuti. Ia menambahkan bahwa berbagai barang di lantai bawah ikut terendam dan harus dijemur setelah banjir surut. Menurutnya, banjir kali ini tergolong cukup parah dibandingkan beberapa tahun terakhir, dengan kawasan tersebut jarang mengalami banjir besar sejak 2020.

Harapan Warga untuk Penanganan Banjir

Miko (40), warga lain di Benhil yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online, terpaksa tidak masuk kerja karena banjir merendam rumahnya. Ia menyebut banjir di kawasan tersebut terus berulang dalam lima tahun, dengan insiden serupa pada 2012 atau 2013 yang lebih parah.

"Tahun 2012 atau 2013 ya, saya lupa, itu sampai pakai tambang, jalan saja susah. Lebih tinggi lagi dari ini waktu 2013," kenang Miko. Ia berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat melakukan pengerukan kali secara rutin untuk mencegah banjir yang diperparah oleh sungai atau kali yang meluap.

"Penginnya ya tidak banjir, kalau bisa itu Kali Krukut juga dibenerin mungkin bisa dikeruk juga karena kalau saya lihat menyempit gitu," tutup Miko. Warga berharap langkah-langkah pencegahan dapat diambil untuk mengurangi risiko banjir di masa depan.