Porter Stasiun Senen Raup Cuan di Musim Mudik, Angkut Barang 15 Kali Sehari
Stasiun Pasar Senen di Jakarta Pusat dipadati oleh ribuan pemudik yang hendak pulang kampung untuk merayakan Lebaran. Suasana ramai ini membuat para porter pengangkut barang kereta api bekerja lebih keras dari biasanya, dengan intensitas yang meningkat signifikan.
Kesibukan Meningkat Drastis Saat Puncak Arus Mudik
Salah satu porter yang merasakan langsung peningkatan aktivitas tersebut adalah Khamid, yang telah bekerja di Stasiun Pasar Senen sejak tahun 1999. Dia mengungkapkan bahwa pada hari-hari biasa, dia hanya mengangkut barang sekitar 5 hingga 7 kali dalam sehari. Namun, di musim mudik Lebaran seperti sekarang, jumlahnya bisa melonjak hingga 15 kali.
"Ibaratnya, kalau hari biasa paling hanya 5 atau 7 kali. Tapi saat ini bisa mencapai 15 kali," kata Khamid saat ditemui di lokasi pada Senin (16/3/2026).
Penghasilan Meningkat Dua Kali Lipat
Dengan peningkatan beban kerja tersebut, penghasilan Khamid juga turut naik secara signifikan. Pada hari biasa, dia hanya mendapatkan sekitar Rp 100 ribu per hari. Namun, di musim mudik Lebaran, penghasilannya bisa mencapai Rp 200 ribu, atau dua kali lipat dari biasanya.
"Kalau Lebaran begini, penghasilan bisa dua kali lipat dibanding hari biasa yang hanya sekitar Rp 100 ribu," ujarnya.
Musim Liburan Jadi Momen Menguntungkan
Khamid menyebut bahwa musim mudik Lebaran dan liburan panjang lainnya merupakan kesempatan emas untuk meraup keuntungan lebih besar. Aktivitas transportasi yang padat membuat jasa porter menjadi sangat dibutuhkan oleh para penumpang yang membawa banyak barang.
"Iya, Lebaran dan liburan panjang memang menguntungkan bagi kami," katanya.
Tetap Menyempatkan Diri Mudik ke Kampung Halaman
Meski sibuk melayani para pemudik, Khamid tidak lupa untuk merencanakan mudiknya sendiri. Dia berencana pulang ke kampung halamannya di Kebumen, Jawa Tengah, untuk berkumpul dengan keluarga. Dia akan menyempatkan waktu satu hingga dua hari sebelum kembali bekerja.
"Saya akan datang ke kampung. Kasihan kalau keluarga tidak ada bapaknya, anak-anak pasti merindukan. Jadi, saya sempatkan satu atau dua hari untuk pulang, lalu berangkat lagi," tutur Khamid.
Kondisi serupa juga dialami oleh porter lainnya di stasiun-stasiun besar seperti Gambir, di mana beberapa mengeluh masih ada penumpang yang membayar seadanya meski tarif telah ditentukan melalui sistem E-Porter. Namun, di tengah kesibukan dan tantangan tersebut, semangat para porter untuk bekerja dan tetap menjaga tradisi mudik tetap menyala.
