Porter Stasiun Gambir Curhat Tarif E-Porter Tak Selalu Dipatuhi Penumpang
Arus mudik Lebaran Idul Fitri di Stasiun Gambir, Jakarta, mulai menunjukkan peningkatan signifikan. Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang dan membantu kelancaran pergerakan pemudik, sebanyak 240 porter disiagakan selama 24 jam penuh. Mereka dibagi dalam dua shift dengan sistem kerja 12 jam per shift.
Pengaturan Porter dan Sistem Kerja
Warsito (36), salah satu porter di Stasiun Gambir, menjelaskan bahwa pembagian waktu kerja dilakukan dengan sistem 12 jam. Shift pertama dimulai pukul 08.00 WIB hingga 20.00 WIB, kemudian dilanjutkan oleh shift berikutnya hingga pagi hari. "Kita ada dua sif. Satu sifnya ada 120 porter, jadi total ada 240 porter yang dibagi tim merah dan tim biru," ujarnya.
Dia menambahkan bahwa meski bekerja 12 jam, porter tidak terus-menerus aktif karena jadwal kereta memiliki jeda, yang dimanfaatkan untuk istirahat. Kepadatan penumpang mudik sudah mulai terasa sejak H-7 Lebaran, dengan momen Idul Fitri menjadi waktu tersibuk bagi jasa porter dibandingkan hari besar lainnya.
Tarif Resmi dan Tantangan di Lapangan
Warsito mengungkapkan bahwa pengelolaan porter kini lebih modern dengan adanya aplikasi E-Porter. Tarif standar minimal ditetapkan sebesar Rp 38.000 untuk dua barang besar, dengan penyesuaian jika barang lebih banyak. "Tarif standar minimalnya itu Rp 38.000 untuk dua barang besar. Tapi kalau barangnya lebih banyak, biasanya dikenakan dua kali lipat," jelasnya.
Namun, meski sudah ada tarif resmi, Warsito sering menghadapi situasi di mana penumpang belum mengetahui bahwa jasa porter berbayar. Ada yang memberikan uang sekadarnya, seperti Rp 20.000 atau Rp 25.000, atau bahkan hanya mengucapkan terima kasih karena mengira porter digaji tetap oleh stasiun. "Ada yang kasih Rp 20 ribu atau Rp 25 ribu karena belum tahu ada tarif aplikasi, ya tetap kita terima, kita nggak boleh maksa," tuturnya.
Peran Porter yang Lebih Luas
Layanan porter di stasiun tidak hanya terbatas pada mengangkat barang bawaan penumpang. Warsito bercerita bahwa para porter sering berperan sebagai penunjuk jalan bagi penumpang yang kebingungan, hingga membantu kategori penumpang khusus seperti lansia, anak kecil, atau penyandang disabilitas. "(Tugas porter) Variatif, ada yang titipin anaknya yang masih kecil buat diantar sampai ke pintu kereta, ada lansia sendirian, sampai teman-teman disabilitas atau tunanetra yang kita bantu arahkan jalurnya," ungkapnya.
Pengorbanan di Hari Lebaran
Sebagai penyedia jasa yang ramai di masa mudik, Warsito harus mengesampingkan keinginan berkumpul bersama keluarga di hari lebaran. Dia baru akan menemui keluarganya di Blora, Jawa Tengah, setelah masa puncak mudik selesai. "Keluarga semua di Blora. Kita pulangnya nanti gantian, biasanya setelah Lebaran baru pulang. Ya ini sudah risiko pekerjaan, harapannya supaya penghasilan bisa bertambah untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan kesehatan di kampung," pungkasnya.
