Seorang pekerja bernama Boy (24) yang beraktivitas di kawasan Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) mengaku tidak mempermasalahkan kenaikan tarif rute Transjabodetabek (TransJ) Blok M-Soekarno-Hatta (SH2) menjadi Rp 15 ribu mulai September 2026. Menurutnya, tarif tersebut masih lebih murah dibandingkan moda transportasi lain menuju bandara, sehingga layanan itu tetap menjadi pilihan paling ekonomis untuk perjalanan kerjanya.
Tarif Rp 15 Ribu Dinilai Layak
Boy menyampaikan dukungannya saat ditemui di Kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Sabtu (1/8/2026). Ia menegaskan bahwa tarif Rp 15 ribu masih sangat layak dan tidak mahal, terutama jika dibandingkan dengan biaya transportasi lain yang selama ini harus ia keluarkan untuk mencapai bandara.
"Saya setuju. Menurut saya masih sangat layak kok, nggak mahal. Selama ini kalau mau ke bandara kan memang transport cukup mahal, jadi kalau ada bus dengan tarif Rp 15 ribu tetap lebih ekonomis sih," kata Boy.
Pengalaman Sebelum Ada Rute SH2
Boy mengaku setiap hari bekerja di sekitar Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang. Sebelum adanya rute SH2, ia sempat menggunakan rute TransJakarta dari GBK menuju Kalideres, kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus ke bandara. Rute itu hanya memakan biaya Rp 7 ribu sekali jalan, namun menurutnya perjalanan menjadi melelahkan karena harus berganti moda.
"Dulu pas keluar bus Kalideres-Soetta, saya sempat rutin tuh. Naik dari GBK yang 3F ke Kalideres, terus lanjut yang ke bandara. Cuma Rp 7 ribu sekali jalan. Cuma lama-lama capek kan," ujarnya.
Kehadiran rute SH2 membuat perjalanan Boy menjadi lebih praktis karena tidak perlu lagi berganti bus. "Nah semenjak ada SH2 jadi lebih enak. Saya bisa naik dari GBK langsung ke Soetta," lanjutnya.
Perbandingan dengan Transportasi Lain
Boy mengatakan tetap akan menggunakan layanan TransJ meski tarif naik menjadi Rp 15 ribu. Ia menilai belum ada moda transportasi lain yang menawarkan tarif semurah itu untuk tujuan bandara. Sebagai perbandingan, ia menyebut tarif Damri untuk rute yang sama mencapai Rp 50 ribu.
"Iya sih, belum ada transportasi yang murah kayak gini. Kalau naik Damri aja bisa Rp 50 ribu kan. Naik motor juga gempor saya. Lagian kalau dipikir-pikir mah Rp 15 ribu masih murah lah," ucapnya.
Harapan Penambahan Armada
Meski mendukung kenaikan tarif, Boy berharap Transjabodetabek menambah jumlah armada agar waktu tunggu penumpang semakin singkat. Ia mengamati bahwa bus sering kali penuh saat melayani rute dari Soetta menuju Blok M, sementara arah sebaliknya cenderung lebih sepi.
"Nanti kalau misal peminatnya makin banyak, semoga busnya bisa ditambah aja sih. Biar kita nunggunya juga nggak kelamaan. Biasanya bakal penuh busnya pas dari Soetta ke Blok M. Kalau dari Blok M ke Soetta malah kadang nggak terlalu ramai," ucapnya.
Penetapan Tarif oleh Pemprov DKI
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menetapkan tarif bus TransJabodetabek rute Blok M-Bandara Soekarno-Hatta sebesar Rp 15 ribu. Tarif tersebut tertuang dalam Keputusan Gubernur Nomor 685 Tahun 2026 tentang Tarif Layanan Angkutan Umum Transbandara Rute Blok M-Bandara Soekarno-Hatta. Kenaikan ini berlaku mulai 1 September 2026.
Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) DKI Jakarta, Budi Awaluddin, menjelaskan bahwa tarif tersebut merupakan hasil penetapan setelah melalui masa uji coba. "Pak Gubernur mengeluarkan Keputusan Gubernur Nomor 685 Tahun 2026 tentang Tarif Layanan Angkutan Umum Transbandara Rute Blok M-Bandara Soekarno-Hatta, ya, dengan tarif Rp 15 ribu," ujar Budi kepada wartawan di Balaikota Jakarta, Jumat (13/7).
Sebelumnya, selama uji coba, tarif TransJ Blok M-Bandara Soetta hanya Rp 3.500. Setelah evaluasi, Pemprov DKI menetapkan tarif baru yang lebih tinggi, namun masih dinilai kompetitif oleh pengguna seperti Boy.



