Jalur Pantura Pasuruan Terendam Banjir, Lalu Lintas Arus Balik Lebaran Lumpuh Total
Banjir melanda sejumlah ruas jalan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada Rabu (25/3/2026) malam, menyebabkan kelumpuhan lalu lintas di jalur Pantura yang menjadi rute utama pemudik Lebaran. Genangan air yang cukup dalam membuat kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas, memicu antrean panjang di tengah puncak arus balik Lebaran H+3.
Beberapa Titik Jalan Utama Terendam, Kendaraan Dialihkan
Berdasarkan laporan dari detikjatim, banjir pertama kali merendam jalur pantura di daerah Beji, tepatnya di ruas yang menghubungkan wilayah Gempol dengan Bangil. Genangan air yang menutup jalan tersebut cukup dalam sehingga menghalangi semua jenis kendaraan untuk lewat.
Selain di Beji, banjir juga melanda Jalan Raya Cangkringmalang di Kecamatan Beji, jalan utama Pandaan-Malang di Sukorejo, serta jalan Pasuruan-Malang di depan pasar Wonorejo. Bahkan, jalur pantura di Jalan Ir Juanda, Kota Pasuruan, juga tak luput dari genangan air.
Akibatnya, pihak berwenang terpaksa menutup akses jalan dan mengalihkan kendaraan ke Jalur Lingkar Selatan atau menggunakan tol sebagai alternatif. "Dialihkan sejak pukul 21.30 sampai saat ini masih ditutup," jelas Kepala UPT P3 LLAJ Dishub Jawa Timur, Yulianto.
Personel Kepolisian Siaga, Banyak Motor Mogok
Sejumlah personel Satlantas Polres Pasuruan tampak bersiaga di lokasi kejadian untuk mengatur arus lalu lintas yang kacau balau. Namun, situasi semakin rumit karena banyak pengendara roda dua yang nekat menerobos banjir, berujung pada mogoknya kendaraan mereka di tengah genangan.
Volume kendaraan yang meningkat signifikan akibat arus balik Lebaran turut memperparah kemacetan yang terjadi. Antrean panjang terpantau di sepanjang ruas jalan yang terendam, menambah beban perjalanan para pemudik yang hendak kembali ke kota tujuan.
Kejadian ini mengingatkan pentingnya kesiapan infrastruktur jalan dalam menghadapi musim penghujan, terutama saat momen mudik Lebaran ketika lalu lintas padat merayap. Dampak banjir tidak hanya mengganggu mobilitas warga, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi akibat terhambatnya distribusi barang dan jasa.



