Di kota-kota besar, ibadah haji kian dipahami sebagai urusan personal. Seseorang mendaftar, melunasi biaya, berangkat, lalu pulang dengan pengalaman spiritual yang bersifat privat. Ritme hidup urban yang administratif dan individualistik membuat haji tampil sebagai capaian individual, seolah berdiri terpisah dari kehidupan sosial di sekelilingnya.
Haji di Desa: Peristiwa Kolektif
Namun di banyak desa Indonesia, haji masih hidup sebagai peristiwa yang jauh lebih besar daripada perjalanan religius seseorang. Ketika satu warga berniat berangkat haji, satu kampung ikut bergerak. Rumah calon jemaah mendadak ramai. Tetangga datang silih berganti untuk bersalaman, meminta doa, dan menitipkan harapan. Tradisi ini menunjukkan bahwa haji di desa bukan hanya tentang individu, tetapi juga tentang solidaritas sosial dan spiritualitas komunal.
Perbedaan Signifikan dengan Kota
Di desa, persiapan haji melibatkan banyak pihak. Mulai dari gotong royong membersihkan rumah, mengadakan selamatan, hingga pengajian bersama. Calon jemaah dianggap sebagai perwakilan kampung yang akan membawa doa dan harapan seluruh warga. Sementara di kota, prosesnya cenderung lebih privat dan terfokus pada administrasi serta biaya.
Fenomena ini mencerminkan bahwa di desa, haji masih menjadi bagian dari identitas kolektif. Keberangkatan seorang jemaah haji tidak hanya membawa perubahan bagi dirinya, tetapi juga bagi lingkungan sosialnya. Tradisi saling mengantar, memberikan amplop berisi uang atau doa, serta mengadakan syukuran menjadi pemandangan umum.
Dengan demikian, meskipun modernisasi mengubah cara pandang terhadap haji di perkotaan, di pedesaan nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas bersama tetap terjaga. Haji bukan sekadar perjalanan, melainkan peristiwa yang memperkuat ikatan sosial dan keimanan kolektif.



