Warga Agam Tetap Khidmat Salat Id di Lapangan Usai Masjid Hancur Diterjang Galodo
Ratusan warga Jorong Labuah, Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menunjukkan keteguhan iman dengan melaksanakan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di lapangan terbuka pada Jumat (20/3/2026). Keputusan ini diambil karena masjid terdekat di lokasi tersebut hancur akibat bencana galodo yang melanda wilayah itu.
Kondisi Lapangan dan Perjalanan Warga
Lapangan yang digunakan untuk salat Id sebelumnya merupakan tanah kosong yang kemudian ditimbun dengan bebatuan sisa bencana galodo. Alat berat terlihat masih berada di sekitar lokasi, berdampingan dengan area ibadah warga. Sejak pukul 07.00 WIB, warga berdatangan ke tempat itu dengan berjalan kaki, menghadapi medan yang menantang.
Beberapa di antara mereka harus mendaki atau menuruni jalur, bahkan melintasi tumpukan bebatuan dan material sisa galodo. Kehadiran jamaah sangat beragam, mencakup balita, remaja, orang dewasa, dan lansia, yang semuanya tampak antusias menuju tempat salat Id meski dalam keterbatasan.
Persiapan dan Pelaksanaan Ibadah
Dalam kondisi serba terbatas, warga menyiapkan fasilitas sederhana untuk mendukung ibadah. Sebuah terpal dibentangkan di bagian depan lapangan, menutupi area imam dan saf laki-laki dari terik matahari. Saf jamaah tersusun rapi di atas alas terpal yang dibentangkan di lapangan.
Dua unit pengeras suara milik warga setempat digunakan sebagai peralatan pendukung, sementara kotak infak dan sedekah tetap tersedia di sisi saf laki-laki dan perempuan. Meski tanpa bangunan masjid, lantunan takbir tetap menggema di area terbuka, menciptakan suasana haru dan penuh keteguhan.
Dampak Bencana Galodo dan Kerugian
Berdasarkan data Dashboard Satu Data Bencana Sumatera Barat, bencana galodo telah menyebabkan kerusakan signifikan di nagari tersebut. Sebanyak 272 bangunan mengalami kerusakan dengan tingkat ringan, sedang, hingga berat. Total kerugian material ditaksir mencapai Rp 98,7 miliar, yang mencerminkan skala dampak bencana ini terhadap masyarakat setempat.
Warga tetap melaksanakan salat dengan tertib dan khusyuk, menunjukkan semangat kebersamaan dan ketahanan dalam menghadapi ujian alam. Momen ini menjadi bukti nyata bagaimana komunitas dapat tetap merayakan hari raya dengan penuh makna meski di tengah keterbatasan pasca-bencana.



