Warga Desa Sahraja Aceh Bangun Musala dari Kayu Gelondongan Pasca Banjir Bandang
Warga Desa Sahraja di Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, menunjukkan ketangguhan dengan membangun rumah ibadah atau musala menggunakan kayu gelondongan yang terseret arus banjir bandang. Bencana yang melanda pada November 2025 lalu menghancurkan banyak fasilitas, termasuk tempat ibadah, sehingga masyarakat berinisiatif memanfaatkan sisa-sisa kayu untuk pembangunan kembali.
Inisiatif Gotong Royong di Tengah Keterbatasan
Rudi Jasa, seorang warga Desa Sahraja yang ditemui di Dusun Sarah Gala, mengungkapkan bahwa rencana pembangunan musala ini berasal dari keinginan kuat untuk memiliki tempat ibadah yang layak. "Rencananya kami bangun dari sisa kayu yang terseret banjir," ujarnya seperti dilansir dari Antara pada Minggu, 22 Februari 2026. Meskipun demikian, ia menyatakan bahwa masyarakat masih membutuhkan bantuan pemerintah, terutama bahan bakar untuk memotong kayu gelondongan tersebut.
Hingga saat ini, Rudi telah berhasil mengumpulkan sekitar 1 ton kayu gelondongan. Namun, untuk membangun musala yang memadai, diperkirakan dibutuhkan 5 hingga 6 ton kayu. "Ini persiapan untuk shalat tarawih dan Idul Fitri nanti. Cuma, sekarang kami masih di tenda darurat," tambahnya dengan harapan.
Dukungan dari Relawan dan BNPB
Dalam proses pemulihan pascabencana, warga Desa Sahraja telah menerima bantuan dari berbagai pihak. Rudi menyampaikan terima kasih kepada para relawan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang telah memberikan bantuan berupa tenda darurat untuk tempat beribadah sementara. Bantuan lain yang diterima termasuk pengeras suara atau toa serta perangkat ibadah lainnya, yang memungkinkan masyarakat mulai melaksanakan ibadah pada bulan suci Ramadan.
"Setelah banjir ini memang hilang total. Cuma tinggal bekas. Jadi, kalau masalah kerinduan tempat ibadah, sudah pasti kami rindu," kata Rudi, menggambarkan kerinduan warga terhadap sarana ibadah yang hanyut diterjang banjir.
Dampak Banjir Bandang yang Parah
Desa Sahraja merupakan salah satu daerah yang paling parah terdampak banjir bandang di Aceh pada November 2025. Bencana ini tidak hanya merusak rumah tinggal, tetapi juga fasilitas umum dan kebun milik warga. Sebanyak 243 kepala keluarga (KK) di desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Bener Meriah itu kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan mereka.
Pembangunan musala dari kayu gelondongan ini menjadi simbol harapan dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana. Dengan semangat gotong royong, warga berupaya memulihkan kehidupan spiritual mereka sembari menunggu bantuan lebih lanjut untuk menyelesaikan konstruksi rumah ibadah tersebut.



