Ustaz Firdaus Wafat Saat Ceramah, Anak dan Warga Kenang Sosoknya
Ustaz Firdaus Wafat Saat Ceramah, Anak dan Warga Kenang

Ahmad Firdaus (53) meninggal dunia saat mengisi ceramah dalam sebuah pengajian di Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur. Peristiwa itu terjadi pada Kamis (30/7) dan viral setelah video yang memperlihatkan ia tiba-tiba jatuh saat berceramah beredar di media sosial. Pihak keluarga membenarkan kejadian tersebut.

Firdaus dikenal sebagai ustaz yang dekat dengan jemaah dan warga. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, terutama bagi anak, tetangga, dan anggota pengajian yang kerap bersamanya.

Kenangan Anak: Tidak Ada Jarak dengan Jemaah

Anak Firdaus, Ahmad Fikri Fairus (31), menuturkan bahwa ayahnya tidak pernah menjaga jarak dengan jemaah. Almarhum bahkan sering menghabiskan waktu bersama jemaah, sekadar ngopi atau mengobrol santai.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Nggak ada gap antara beliau dengan jamaahnya. Jadi ya ngopi bareng, bahkan almarhum selalu bilang, 'Ayah menganggap mereka itu ya teman, teman sharing, teman ngobrol, teman ngopi.' Jadi nggak ada gap antara almarhum dengan tetangga," kata Fairus saat ditemui di rumah Firdaus di Klender, Jakarta Timur, Minggu (2/8).

Menurut Fairus, kedekatan itu membuat ayahnya mudah diterima di lingkungan sekitar. Almarhum tidak hanya menjadi imam atau penceramah, tetapi juga sahabat bagi warga.

Ziarah Rutin dan Ajakan Istigasah

Fairus juga mengungkap kebiasaan Firdaus mengajak warga berziarah ke makam para ulama. Kegiatan itu dilakukan rutin setiap bulan, bahkan bisa lebih sering jika Firdaus sempat.

"Setiap sebulan sekali, kadang kalau almarhum lagi pengin seminggu sekali. Biasanya kita rutin pastinya tarhib Ramadan itu udah pasti ziarah almarhum keliling ke ulama-ulama yang terdekat di sini, khususnya ulama-ulama Betawi gitu. Setiap bulan, tiap minggu pasti almarhum ada ngajakin kami tuh ziarah bareng," ungkapnya.

Pada hari yang sama sebelum meninggal, Firdaus disebut masih sempat mengirim pesan melalui WhatsApp kepada warga untuk mengajak istigasah. Ajakan itu dikirim tidak lama sebelum ia mengembuskan napas terakhir.

"Bahkan sebelum almarhum mengembuskan terakhir aja almarhum masih WA sama sekitar, nge-share ke grup bahwa itu kan memang harusnya ada kegiatan almarhum yang almarhum ajak, 'Ayo ayo istigasah, ayo istigasah.' Ternyata saat itu almarhum mengembuskan napas terakhir," imbuh Fairus.

Warga: Kakak, Guru, dan Teman Nongkrong

Jamaludin (53), warga sekaligus jemaah Firdaus, mengaku kehilangan sosok yang dianggapnya seperti kakak, guru, dan teman nongkrong. Ia menilai Firdaus tidak pernah membeda-bedakan warga, baik muda maupun tua.

"Saya sebagai warga dan juga sebagai jemaah beliau, saya menganggap beliau itu seperti apa, kakak, guru, teman nongkrong juga. Jadi beliau tidak membeda-bedakan mana yang muda, mana yang tua, gitu. Jadi, intinya beliau tuh di mata beliau tuh sama semua, gitu. Tidak membeda-bedakan usia," kenang Jamaludin.

Jamaludin juga pernah mengikuti ziarah yang diinisiasi Firdaus. Beberapa makam ulama di Jakarta sempat dikunjungi, seperti makam K.H. Ahmad Zayadi Muhajir, K.H. Ahmad Marzuqi bin Mirshod, Pangeran Jayakarta, dan Keramat Luar Batang.

"Kalau untuk wilayah yang dekat-dekat seperti makam K.H. Ahmad Zayadi Muhajir, K.H. Ahmad Marzuqi bin Mirshod, Pangeran Jayakarta, terus ke mana, Jakarta Utara itu, iya, Keramat Luar Batang itu sering ikut beliau, gitu. Khususnya sih wilayah Jakarta lah. Wilayah Jakarta sering ikut beliau, gitu. Ya, konvoi sama anak-anak apa, sama anak-anak majelis, sama anak-anak murid beliau. Sama yang di Ujung Harapan," jelasnya.

Selain ziarah, Firdaus dikenal tidak pernah menolak ketika diminta mendampingi hajatan jemaah. Jamaludin menyebut almarhum selalu siap menemani jemaah yang menggelar acara.

"Kalau apa yang dikatakan seperti itu betul. Yang jauh-jauh tuh enak diajaknya dia. Dia pokoknya di mata saya tuh guru itu, Pak Ustaz Firdaus itu paling enak orangnya. Diajak ke mana aja nggak pernah nolak. Pokoknya apabila ada jemaah yang punya hajat ke mana, dia siap mendampingi," kenangnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga